Rabu, 01 Februari 2012

Tanda-tanda Kiamat

Tanda-tanda Kiamat


KEPADA PARA PEMBACA

Alasan mengapa diluangkan sebuah bab khusus [Apendiks] mengenai runtuhnya teori evolusi adalah karena teori ini merupakan dasar dari semua filsafat anti agama. Oleh karena Darwinisme menolak fakta penciptaan, dan demikian pula atas eksistensi Tuhan, selama 140 tahun terakhir teori ini telah menyebabkan banyak orang mengabaikan agama mereka atau mengalami keragu-raguan. Dengan demikian, memperlihatkan bahwa teori ini sebuah tipuan adalah sebuah tugas sangat penting, yang sangat berkaitan dengan agama (din). Merupakan sebuah kewajiban agar tugas penting ini dijalankan kepada setiap orang. Sebagian dari para pembaca kami mung-kin hanya berkesempatan membaca salah satu saja dari bukubuku kami. Oleh sebab itulah, kami menganggap layak untuk memuat satu bab sebagai sebuah ringkasan dari pokok pembahasan ini.
Di dalam semua buku dari penulis, pokok-pokok persoalan yang berkaitan dengan keimanan disampaikan dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur’an dan orang-orang diajak untuk mempelajari ayat-ayat Allah dan mengamalkannya dalam kehidupan. Semua pokok pembahasan yang berkenaan dengan ayat-ayat Allah diterangkan dengan sedemikian rupa sehingga tidak ada celah keraguan atau tanda tanya di dalam benak para pembaca. Penggunaan cara bertutur yang tulus, apa adanya, dan fasih memastikan bahwa setiap orang dari berbagai usia dan kelompok sosial dapat dengan mudah memahami buku-buku ini. Cara penuturan yang efektif dan gamblang memungkinkan untuk membaca buku ini sekali duduk. Bahkan orang-orang yang menolak spiritualitas pun terpengaruh oleh berbagai fakta yang dituturkan di dalam buku-buku ini dan tidak dapat menolak kebenaran yang terkandung di dalamnya.
Buku ini dan semua karya penulis yang lain dapat dibaca secara individu atau dikaji secara berkelompok dalam suatu perbincangan. Pembacaan buku-buku ini oleh sekelompok pembaca dengan maksud untuk memetik manfaat darinya akan berguna bila dengan pengertian bahwa para pembaca tadi dapat saling mengaitkan perenungan dan pengalaman mereka sendiri satu sama lain.
Di samping itu, akan menjadi suatu amal saleh yang sangat besar untuk ikut serta memberikan sumbangan dalam mempresentasikan dan membaca buku-buku ini, yang ditulis semata-mata demi mendapatkan keridhaan Allah. Semua buku dari penulis sangat meyakinkan. Karena alasan inilah, bagi mereka yang ingin menyampaikan din kepada orang lain, salah satu metode yang paling efektif adalah dengan mendorong mereka untuk membaca buku-buku ini. Diharapkan pembaca akan meluangkan waktunya guna membaca tinjauan (review) dari buku-buku lainnya yang terdapat pada halaman-halaman terakhir buku ini, dan memperoleh kepahaman akan kayanya sumber-sumber yang berkenaan dengan isu-isu keagamaan, yang mana begitu berguna dan menyenangkan untuk dibaca.
Di dalam buku-buku tersebut, seseorang tidak akan menemukan, sebagaimana pada sebagian buku-buku lainnya, pandangan-pandangan pribadi penulis, penjelasan-penjelasan yang berlandaskan sumber-sumber yang meragukan, gaya-gaya yang ceroboh dalam menyikapi pokok-pokok pembahasan yang suci, atau keputusasaan, keragu-raguan, dan keterang-an-keterangan yang bersifat pesimistis sehingga menimbulkan penyimpangan-penyimpangan di dalam hati.
APENDIKS:
Kesalahan Konsep Darwinisme
 
Setiap detil di alam semesta ini menunjuk kepada penciptaan yang superior. Sebaliknya, materialisme, yang berupaya untuk menolak fakta tentang konsep penciptaan dalam alam semesta, tidak lain adalah suatu kepalsuan ilmiah.
Sekali materialisme dinyatakan tidak absah, seluruh teoriteori lain yang berasaskan dari filsafat ini dipandang tak memiliki landasan. Berada pada urutan utama di antara teoriteori ini adalah Darwinisme, yakni teori tentang evolusi. Teori ini, yang mempertahankan bahwa kehidupan berasal dari materi yang tak bernyawa melalui kebetulan, telah digugurkan oleh pengakuan bahwa alam semesta telah diciptakan Allah. Pakar astrofisika Amerika Serikat, bernama Hugh Ross, menerangkan tentang hal ini sebagai berikut.
Ateisme, Darwinisme, dan hampir seluruh “isme’ lahir dari filsafat-filsafat yang berkembang di abad ke-18 sampai abad ke-20 dibangun atas dasar asumsi — anggapan yang salah — bahwa alam semesta ini adalah azali. Anggapan tentang keazalian alam ini telah membawa kita untuk berhadap-hadapan dengan persoalan tentang kausa atau — penyebab — yang mengatasi/ berada di balik/yang ada sebelum alam semesta dan seluruh seisinya, termasuk persoalan tentang kehidupan itu sendiri.1
Allah-lah yang telah menciptakan alam semesta ini dan yang telah merancangnya hingga mendetail sampai sekecilkecilnya. Dengan demikian, mustahil teori evolusi — yang berpegang pada pendapat bahwa makhluk hidup tidak diciptakan oleh Allah, melainkan adalah produk dari berbagai peristiwa yang kebetulan — ini benar.
Tidaklah mengejutkan, tatkala kita tilik teori evolusi ini, akan kita saksikan bahwa teori ini dikritisi dengan adanya berbagai temuan ilmiah. Desain dalam kehidupan amat sangat kompleks dan mempesona. Di dunia tak hidup (inanimate world), misalnya, kita dapat menjelajahi betapa pekanya keseimbangan atom-atom, dan lebih jauh lagi, di dunia hidup (animate world), kita dapat mengamati betapa kompleksnya atom-atom ini terkumpul menjadi satu dalam sebuah desain, dan betapa luar biasanya berbagai mekanisme dan struktur seperti protein, enzim, dan sel, yang diproduksi.
Desain yang luar biasa dalam kehidupan ini membuat Darwinisme tidak valid lagi pada akhir abad ke-20.
Kami telah membahas permasalahan ini dengan amat rinci pada sebagian dari kajian-kajian kami yang lain, dan akan terus dilakukan. Meskipun demikian kami berpikir bahwa dengan mempertimbangkan nilainya yang penting, akan sangat membantu untuk menyajikan suatu ringkasan yang singkat di sini.
  • RUNTUHNYA DARWINISME SECARA ILMIAH
Meskipun merupakan sebuah doktrin yang berasal jauh ke belakang pada masa Yunani kuno, teori evolusi dikemukakan secara meluas pada abad ke-19. Perkembangan terpenting yang membuat teori ini menjadi topik utama dunia ilmu pengetahuan adalah buku Charles Darwin yang berjudul The Origin of Species yang diterbitkan pada tahun 1859. Dalam buku ini, Darwin menyangkal bahwa berbagai spesies makhluk hidup di bumi ini diciptakan secara sendiri-sendiri oleh Allah. Menurut Darwin, semua makhluk hidup memiliki satu leluhur yang sama dan mereka berkembang menjadi beraneka ragam seiring berjalannya waktu melalui perubahanperubahan kecil.
Teori Darwin tidak didasarkan pada penemuan ilmiah apa pun yang pasti; sebagaimana diakuinya sendiri, teori ini sekadar “asumsi”. Lagi pula, sebagaimana diakui oleh Darwin dalam sebuah bab yang panjang dalam bukunya itu, yang berjudul Difficulties of the Theory (Kesulitan-kesulitan Teori Ini), teori ini selalu gagal dalam menghadapi sekian banyak pertanyaan yang kritis.
Darwin menanamkan semua harapannya pada penemuanpenemuan ilmiah baru, yang diperkirakannya akan memecahkan “Kesulitan-kesulitan Teori Ini”. Akan tetapi, berlawanan dengan perkiraannya, penemuan-penemuan ilmiah justru memperlebar dimensi kesulitan-kesulitan ini.

Kekalahan Darwinisme atas sains dapat ditinjau dari tiga topik dasar:
  • 1) Teori ini sama sekali tidak menerangkan bagaimana asal-usul kehidupan di bumi.
  • 2) Tak ada penemuan ilmiah yang menunjukkan bahwa “mekanisme-mekanisme evolusi” yang dikemukakan oleh teori ini memiliki suatu kekuatan untuk berkembang sama sekali.
  • 3) Catatan fosil sepenuhnya membuktikan hal-hal yang berlawanan dengan pernyataan-pernyataan teori evolusi.
Dalam bagian ini, kita akan menguji ketiga hal mendasar tadi secara garis besar:
 
  • LANGKAH PERTAMA YANG TAK MAMPU DIATASI: ASAL-USUL KEHIDUPAN
Teori evolusi beranggapan bahwa semua spesies makhluk hidup berkembang dari satu sel hidup tunggal yang muncul di bumi primitif 3,8 milyar tahun yang lalu. Bagaimana sebuah sel tunggal dapat menghasilkan jutaan spesies hidup yang kompleks dan, andaikata evolusi seperti itu memang benar terjadi, mengapa bekas-bekasnya tak dapat diamati pada catatan fosil adalah beberapa pertanyaan yang tak dapat dijawab oleh teori tersebut. Bagaimanapun, pertama-tama dan utama, dari langkah awal proses evolusi yang dinyatakan dengan tanpa bukti itu yang harus diselidiki adalah: Bagaimana asal-usul “sel pertama” ini?
Oleh karena teori evolusi ini mengingkari penciptaan dan tidak menerima campur tangan supernatural dalam bentuk apa pun, teori ini mempertahankan bahwa “sel pertama” berasal secara kebetulan di dalam hukum alam, tanpa rancangan, perencanaan, atau penataan apa pun. Menurut teori ini, materi tak hidup telah memproduksi sebuah sel hidup sebagai hasil dari berbagai peristiwa kebetulan. Bagaimanapun, ini adalah sebuah klaim yang tidak konsisten bahkan dengan hukumhukum biologi yang tak terbantahkan.
  • “KEHIDUPAN BERASAL DARI KEHIDUPAN”
Di dalam bukunya, Darwin tak pernah merujuk ke asalusul kehidupan. Pemahaman primitif sains pada masa hidupnya bertumpu pada asumsi bahwa makhluk hidup memiliki struktur yang sangat sederhana. Semenjak Zaman Pertengahan, generasi spontan (generatio spontanea), teori yang menyatakan bahwa material-material tak hidup berkumpul menjadi satu untuk membentuk organisme-organisme hidup, telah diterima secara luas. Sudah menjadi kepercayaan umum pada saat itu bahwa serangga berasal dari sisa-sisa makanan, dan tikus berasal dari gandum. Percobaan-percobaan yang menarik telah dilakukan guna membuktikan teori ini. Beberapa butir gandum diletakkan di atas sehelai kain kotor, dan diyakini bahwa tikus-tikus akan muncul dari sana setelah beberapa saat.
Serupa itu, ulat-ulat yang muncul dan tumbuh dari daging diasumsikan sebagai bukti generasi spontan. Akan tetapi, hanya beberapa saat kemudian dipahami bahwa ulat-ulat tidak muncul pada daging secara spontan, namun dibawa ke sana oleh lalat dalam bentuk larva yang tak terlihat oleh mata telanjang.
Bahkan pada periode di mana Darwin menulis The Origin of Species, kepercayaan bahwa bakteri dapat muncul dari materi tidak hidup telah diterima secara luas di dunia sains.
Akan tetapi, lima tahun setelah buku Darwin terbit, penemuan Louis Pasteur mengumumkan hasil-hasil temuannya setelah penelaahan dan percobaan yang lama, yang menggugurkan teori generasi spontan, yang merupakan batu pijakan teori evolusi Darwin. Dalam kuliah yang dia berikan dengan gemilang di Universitas Sorbonne pada 1864, Pasteur berkata, “Tidak akan pernah lagi doktrin genarasi spontan ini dapat pulih setelah serangan mematikan yang dilancarkan oleh eksperimen sederhana ini.”2
Para pendukung teori evolusi pun menolak hasil penemuan Pasteur dalam waktu yang lama. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan sains yang menguak misteri struktur sel makhluk hidup yang kompleks, pemikiran bahwa kehidupan dapat terjadi secara kebetulan bahkan menghadapi kebuntuan yang lebih besar lagi.
  • USAHA-USAHA YANG TIDAK MEYAKINKAN PADA ABAD KE-20

Evolusionis pertama yang terlibat dalam pokok pembahasan asal-usul kehidupan pada abad ke-20 adalah ahli biologi terkenal Rusia, Alexander Oparin. Dengan berbagai tesis yang dikemukakannya pada tahun 1930an, dia berusaha membuktikan bahwa sel suatu makhluk hidup dapat dihasilkan secara kebetulan. Akan tetapi, kajian-kajian ini mengalami kegagalan, dan Oparin harus membuat pengakuan berikut: “Sayangnya, asal-usul sel ini tetap menjadi sebuah persoalan yang hingga kini menjadi titik tergelap dari keseluruhan kajian evolusi makhluk organisme.” 3
Para evolusionis pengikut Oparin pun berusaha melakukan berbagai percobaan untuk memecahkan masalah asal-usul kehidupan. Yang paling terkenal dari percobaan ini adalah yang dilakukan oleh ahli kimia Amerika Serikat, Stanley Miller pada tahun 1953. Dengan menggabungkan gas-gas yang dinyatakannya dengan tanpa bukti telah ada pada atmosfir bumi pada tahap paling awal dalam sebuah percobaan yang telah dipersiapkan, dan dengan menambahkan energi dalam campurannya, Miller telah mensintesiskan sekian banyak molekul organis (asam-asam amino) yang terdapat pada struktur protein.
Kemudian tak sampai sekian tahun lamanya, akhirnya terkuak bahwa percobaan ini, yang kemudian dipersembahkan sebagai sebuah langkah penting atas nama evolusi, ternyata tidak valid, atmosfir yang dipakai dalam percobaan tadi sangat berbeda dengan kondisi bumi yang sesungguhnya. 4
Setelah sekian lama membisu, Miller pun mengakui bahwa media atmosfir yang dipakainya dulu tidak realistis. 5
Segala upaya yang dikerahkan oleh kaum evolusionis di sepanjang abad ke-20 untuk menerangkan asal-usul kehidupan berakhir dengan kegagalan. Ahli geokimia Jeffrey Bada dari San Diego Scripps Institute mengakui fakta ini dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Majalah Earth pada tahun 1998:
Saat ini, sementara kita meninggalkan abad ke-20, kita masih menghadapi masalah terbesar yang tak terpecahkan sejak kita memasuki abad ke-20: Bagaimanakah dulunya kehidupan bermula di bumi ini?  6
  • STRUKTUR KEHIDUPAN YANG KOMPLEKS
Alasan utama mengapa teori evolusi berakhir dengan kebuntuan besar yang sedemikian itu mengenai asal-usul kehidupan adalah bahwa bahkan organisme-organisme hidup yang dipandang paling sederhana pun memiliki struktur yang luar biasa kompleksnya. Sel suatu makhluk hidup lebih kompleks daripada semua produk teknologi yang diproduksi oleh manusia. Hari ini, bahkan di berbagai laboratorium yang paling maju di dunia ini, sebuah sel hidup tak dapat diproduksi dengan menggunakan material-material non-organik yang digabungkan secara bersama-sama.
Kondisi-kondisi yang disyaratkan bagi terbentuknya sebuah sel jauh lebih pelik untuk dijelaskan dengan peristiwa kebetulan. Kemungkinan protein, belahan-belahan pembangun sel, untuk tersintesis secara kebetulan adalah 1 banding 950 untuk rata-rata protein yang tersusun dari 500 asam amino. Dalam matematika, sebuah probabilitas yang lebih kecil daripada 1 dibagi 1050 praktis dipandang sebagai kemustahilan.
Molekul DNA, yang terletak di dalam inti sel dan menyimpan informasi genetika, adalah sebuah bank data yang luar biasa. Dikalkulasikan bahwa andaikata informasi yang diberi kode DNA dituliskan, maka akan tersusun dalam sebuah perpustakaan raksasa yang terdiri dari 900 volume ensiklopedia yang masing-masingnya berisi 500 halaman.
Sebuah dilema yang sangat menarik muncul dalam hal ini: DNA tersebut hanya dapat direplikasikan dengan bantuan beberapa protein khusus (enzim). Akan tetapi, sintesis dari enzim-enzim ini hanya dapat direalisasikan oleh informasi yang ada dalam kode DNA. Karena keduanya saling tergantung satu sama lain, maka keduanya pun harus ada dalam waktu yang sama untuk replikasi ini. Hal ini mengantarkan skenario bahwa kehidupan muncul dengan sendirinya ke jalan buntu. Prof. Leslie Orgel, seorang evolusionis tersohor dari University of San Diego, California, mengakui fakta ini dalam majalah Scientific American yang terbit pada bulan September 1994:
Sangatlah tidak mungkin berbagai protein dan asam nukleat, yang keduanya memiliki struktur yang kompleks, muncul secara spontan di tempat yang sama pada waktu yang sama pula. Namun tampaknya mustahil pula bila salah satunya terbentuk tanpa yang lainnya. Dengan demikian, sedari awal, seseorang terpaksa harus menyimpulkan bahwa kehidupan ini tak mungkin berasal dari hasil reaksireaksi kimia.7
Tak diragukan, bila memang mustahil kehidupan ini berasal dari sebab-sebab yang natural, maka haruslah diakui bahwa kehidupan ini “tercipta” secara supernatural. Fakta ini secara tersurat membuat teori evolusi, yang tujuan utamanya adalah mengingkari penciptaan, menjadi tidak valid.
  • MEKANISME KHAYALAN EVOLUSI
Hal penting kedua yang menafikan teori Darwin adalah bahwa kedua konsep yang dikemukakan oleh teori tersebut sebagai “mekanisme-mekanisme evolusioner”, dalam kenyataannya, telah dipahami sebagai tidak memiliki kekuatan evolusioner.
Darwin mendasarkan dugaan evolusinya tadi secara keseluruhan pada mekanisme “seleksi alam (natural selection)”. Pentingnya kedudukan mekanisme ini baginya tampak nyata dalam judul bukunya: The Origin of Species, By Means Of Natural Selection ...
Seleksi alam menyatakan bahwa makhluk-makhluk hidup yang lebih kuat dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan kondisi-kondisi alam tempatnya berada akan dapat bertahan hidup. Misalnya, dalam sekawanan rusa yang berada di bawah ancaman serangan dari berbagai binatang buas, maka yang larinya lebih kencang akan tetap bertahan hidup. Dengan demikian, kawanan rusa tersebut akan terdiri dari individuindividu yang lebih cepat dan lebih kuat. Akan tetapi, tidaklah mengherankan, mekanisme ini tidak akan menyebabkan rusa untuk berkembang dan mengubah bentuknya menjadi spesies makhluk hidup lainnya, menjadi kuda, misalnya.
Dengan demikian, mekanisme seleksi alam tidak memiliki kekuatan evolusioner. Darwin pun menyadari fakta ini dan harus menyatakannya di dalam bukunya The Origin of Species:
Seleksi alam tidak berperan apa pun hingga pada perbedaan-perbedaan atau variasi dalam individu itu memiliki peluangnya.8
  • PENGARUH LAMARCK
Maka, bagaimanakah “variasi-variasi yang memiliki peluang” ini bisa terjadi? Darwin berusaha menjawab pertanyaan ini dari sudut pandang pemahaman sains primitif pada masa hidupnya. Menurut ahli biologi Prancis, bernama Lamarck, yang hidup sebelum Darwin, makhluk-makhluk hidup menurunkan ciri-ciri pembawaan yang mereka peroleh pada masa hidupnya kepada generasi berikutnya, dan ciri-ciri pembawaan ini, berakumulasi dari satu generasi ke generasi berikutnya, menyebabkan terbentuknya spesies baru. Misalnya, menurut Lamarck, jerapah berkembang dari antelop (semacam kijang bertanduk, pent.); sewaktu hewan-hewan ini berusaha untuk memakan dedaunan yang terletak di pohonpohon yang tinggi, leher hewan-hewan ini pun lalu memanjang dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Darwin juga memberikan contoh-contoh yang serupa dengan itu, dan di dalam bukunya The Origin of Species, misalnya, disebutkan bahwa beberapa beruang yang masuk ke dalam air untuk mencari makan telah berubah bentuknya menjadi ikan paus seiring berjalannya waktu.9
Akan tetapi, hukum sifat pewarisan genetika (laws of inheritance) yang ditemukan oleh Mendel dan telah diperiksa ulang kebenarannya oleh ilmu genetika yang mengalami kemajuan pesat pada abad ke-20, menghapuskan seluruhnya legenda tentang ciri-ciri pembawaan yang diperoleh dilanjutkan kepada generasi-generasi berikutnya. Dan dengan demikian, seleksi alam tidak ada landasan sebagaimana mekanisme evolusi.
  • NEO-DARWINISME DAN MUTASI
Dalam rangka memperoleh suatu solusi, para penganut Darwinisme mengajukan “Teori Sintetis Modern”, atau lebih umum dikenal sebagai Neo-Darwinisme, pada akhir tahun 1930an. Neo-Darwinisme menambahkan mutasi, yang merupakan distorsi yang terbentuk di dalam gen-gen dari makhluk hidup yang diakibatkan oleh berbagai faktor eksternal seperti radiasi atau kesalahan-kesalahan replikasi, sebagai “penyebab variasi-variasi yang memiliki peluang” di samping mutasi alami.
Saat ini, model yang dipakai bagi evolusi di dunia adalah Neo-Darwinisme. Teori ini mempertahankan bahwa jutaan makhluk hidup yang hadir di bumi ini terbentuk sebagai hasil dari sebuah proses yang dengannya sekian banyak organ kompleks organisme-organisme ini seperti telinga, mata, paru-paru, dan sayap, mengalami “mutasi”, yaitu, kelainan genetika. Namun, terdapat sebuah fakta ilmiah telak yang meruntuhkan teori ini secara total: Mutasi tidak menyebabkan makhluk-makhluk hidup mengalami perkembangan evolusif; sebaliknya, hal ini justru mendatangkan bahaya bagi makhluk hidup.
Alasannya sangat sederhana: DNA memiliki sebuah struktur yang sangat kompleks dan efek-efek yang terjadi secara acak hanya dapat mendatangkan kerusakan baginya. Ahli genetika Amerika B.G. Ranganathan menjelaskan hal ini sebagai berikut:
Pertama-tama, secara alamiah proses mutasi yang asli adalah sangat jarang terjadi. Kedua, kebanyakan dari proses-proses mutasi adalah membahayakan karena terjadi secara tidak teratur, ketimbang sebagai proses perubahanperubahan yang teratur dalam struktur gen; perubahanperubahan apa pun yang tidak beraturan pada suatu sistem yang amat teratur akan berdampak lebih buruk, bukan menuju yang lebih baik. Contoh, tatkala bencana gempa bumi telah membuat guncangan pada suatu struktur yang tersusun amat teratur seperti suatu gedung, akan terjadi perubahan yang serampangan pada rangkaian struktur gedung, yang dalam segala kemungkinannya, perubahan itu tentu saja bukan suatu proses peningkatan dari kondisi sebelumnya.10
Tidaklah mengejutkan, tak ada contoh mutasi yang memiliki dampak positif, yaitu yang telah diteliti yang mengembangkan kode genetika, yang selama ini diamati sejauh ini. Semua mutasi telah terbukti membawa dampak negatif. Telah dipahami bahwa mutasi, yang dihadirkan sebagai sebuah “mekanisme evolusi”, sesungguhnya adalah suatu kejadian genetika yang membawa dampak yang berbahaya bagi makh-luk-makhluk hidup, dan meninggalkan kecacatan. (Efek mutasi paling umum pada manusia adalah kanker). Tak diragukan, sebuah mekanisme yang destruktif tak dapat disebut sebuah “mekanisme evolusi”. Seleksi alam, pada sisi lain, “tak dapat berbuat apa-apa dengan sendirinya” sebagaimana diakui pula oleh Darwin. Fakta ini memperlihatkan kepada kita bahwa tak ada “mekanisme evolusi” di alam. Oleh karena tak ada mekanisme evolusi, maka tak ada pula proses khayalan yang disebut evolusi yang telah terjadi.
  • CATATAN FOSIL: TAK ADA TANDA BENTUK-BENTUK PERALIHAN (INTERMEDIATE FORMS)
Bukti paling jelas bahwa skenario yang dinyatakan oleh teori evolusi tidak terjadi adalah catatan fosil.
Menurut teori evolusi, setiap spesies hidup dulunya berasal dari satu moyang. Suatu spesies yang lebih dulu ada telah berubah menjadi sesuatu yang lain dalam perjalanan waktu dan semua spesies muncul menjadi ada dengan cara ini. Menurut teori ini, transformasi tersebut berlangsung secara berangsur-angsur selama jutaan tahun.
Andaikata dulu memang demikian kasusnya, maka spesies peralihan yang tak terhitung jumlahnya seharusnya pernah ada dan hidup di dalam periode transformasi yang panjang ini.
Misalnya, beberapa makhluk setengah ikan-setengah reptil semestinya pernah hidup pada masa lalu yang telah memperoleh sebagian ciri bawaan reptil di samping ciri bawaan ikan yang telah dimilikinya. Atau seharusnya pernah ada beberapa burung-reptil, yang memperoleh sebagian ciri bawaan burung di samping ciri bawaan reptil yang telah dimilikinya. Oleh karena makhluk-makhluk ini ada pada fase transisi, semestinya makhluk-makhluk tersebut mengalami kecacatan. Para evolusionis merujuk ke makhluk-makhluk khayalan ini, yang mereka yakini pernah hidup pada masa lalu, sebagai “bentukbentuk peralihan”.
Andaikata hewan-hewan seperti itu memang pernah ada, maka seharusnya ada jutaan dan bahkan milyaran jumlah dan ragamnya. Lebih penting lagi, sisa-sisa dari makhluk-makhluk aneh ini seharusnya muncul pada catatan fosil. Di dalam The Origin of Species, Darwin menerangkan:
Andaikata teori saya benar, beragam makhluk peralihan yang tak terhitung jumlahnya, yang menghubungkan sedekat mungkin semua spesies dari kelompok yang sama secara bersama-sama harusnya pasti pernah ada … Konsekuensinya, bukti bahwa makhluk-makhluk tersebut pernah ada hanya dapat ditemukan di antara sisa-sisa fosil.11
  • HARAPAN DARWIN HANCUR BERKEPING-KEPING

Akan tetapi, walaupun para evolusionis telah melakukan berbagai usaha yang keras selama ini untuk menemukan fosilfosil semenjak pertengahan abad ke-19 di seluruh penjuru dunia, belum ada bentuk-bentuk peralihan yang pernah ditemukan. Semua fosil yang diangkat dari penggalian-peng-galian memperlihatkan bahwa, berlawanan dengan harapan para evolusionis, kehidupan muncul di bumi ini dengan tibatiba dan telah sempurna.
Seorang ahli fosil Inggris terkenal, Derek V. Ager, mengakui fakta ini, meskipun dia adalah seorang evolusionis:
Hal yang muncul tatkala kami memeriksa catatan fosil secara mendetail, baik pada tingkatan ordo atau spesies, kami menemukan — lagi dan lagi — bukannya evolusi bertahap, namun suatu kemunculan mendadak sekelompok makhluk hidup disertai punahnya sekelompok makhluk hidup yang lain.12
Ini berarti bahwa di dalam catatan fosil, semua spesies makhluk hidup muncul dengan tiba-tiba dalam keadaan yang telah sempurna, tanpa adanya bentuk-bentuk peralihan apa pun yang berada di antara bentuk-bentuk itu. Ini saja sama sekali berlawanan dengan asumsi-asumsi Darwin. Juga, ini adalah bukti yang sangat kuat bahwa makhluk hidup diciptakan. Satu-satunya penjelasan suatu spesies makhluk hidup muncul dengan tiba-tiba dan sempurna hingga setiap detailnya tanpa adanya moyang evolusioner apa pun adalah bahwa spesies ini memang diciptakan. Fakta ini juga diakui oleh ahli biologi dan evolusionis yang sangat terkenal, Douglas Futuyma:
Kreasi (penciptaan) dan evolusi, di masing-masing yang memegangi pendangan ini, telah berusaha keras membuat penjelasan sebisa mungkin atas asal-usul makhluk hidup. Apakah organisme-organisme muncul di bumi dalam bentuk yang sudah sepenuhnya sempurna baik atau sebaliknya. Jika tidak, maka organisme-organisme tersebut harus berkembang dari bakal-spesies yang ada sebelumnya melalui suatu modifikasi [perubahan sesuai dengan faktor lingkungan, bukan genetis, peny.]. Jika organisme-organisme tersebut memang muncul dalam keadaan yang sudah sempurna, sudah tentu telah diciptakan oleh suatu kecerdasan yang mahakuasa.13
Sisa-sisa fosil menunjukkan bahwa makhluk hidup muncul dalam keadaan yang mengalami perkembangan yang terbaik dan kondisi yang sempurna di bumi ini. Ini bermakna bahwa “asal-usul spesies adalah — kebalikan dari anggapan Darwin — bukan melalui evolusi melainkan penciptaan.
  • DONGENG EVOLUSI MANUSIA
Pokok pembahasan yang kerap diangkat oleh para pendukung teori evolusi adalah pokok bahasan tentang asal-usul manusia. Klaim Darwinian menyatakan bahwa manusia modern saat ini berkembang dari sejenis makhluk serupa kera. Pada waktu berlangsung proses evolusi yang berupa dugaan ini, yang dianggap dimulai 4–5 juta tahun yang lalu, dinyatakan bahwa ada suatu “bentuk-bentuk peralihan” antara manusia modern dan para leluhurnya itu. Menurut skenario yang sepenuhnya khayalan ini, empat “kategori” dasar masuk dalam daftar:
1. Australopithecus [“Manusia-Kera yang menggunakan kakinya dalam berjalan”].
2. Homo habilis [“Manusia yang terampil menggunakan tangannya untuk berbagai keperluan” atau “handy man”].
3. Homo erectus [“Manusia yang berdiri tegak”].
4. Homo sapiens [“Manusia yang berpikir”].

Para evolusionis menyebut para moyang pertama yang disebut serupa kera tadi sebagai manusia “Australopithecus” yang artinya “kera Afrika Selatan”. Makhluk-makhluk ini sesungguhnya tak lain kecuali suatu spesies kera kuno yang telah punah. Penelitian yang luas atas berbagai spesimen atau contoh Australopithecus oleh dua orang ahli anatomi dunia terkenal dari Inggris dan Amerika Serikat, yaitu Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard, telah memperlihatkan bahwa spesimen-spesimen tadi berasal dari suatu spesies kera biasa yang telah punah dan tidak ada kemiripannya dengan manusia.
14

Para evolusionis menggolongkan tahapan evolusi manusia yang berikutnya sebagai “homo”, yaitu “manusia”. Menurut klaim evolusionis, makhluk hidup dalam rangkaian Homo lebih maju daripada Australopithecus. Para evolusionis merancang sebuah skema evolusi khayalan dengan menata berbagai fosil makhluk-makhluk ini dalam sebuah urutan tertentu. Skema ini khayalan karena tak pernah terbukti adanya hubungan evolusi di antara dua kelas yang berbeda. Ernst Mayr, salah seorang pendukung teori evolusi terkemuka pada abad ke-20, mencantumkan dalam bukunya berjudul One Long Argument bahwa “[teka-teki] bersejarah yang amat khusus seperti asal-asal kehidupan atau asal-usul Homo sapiens, adalah sangat sulit dan bahkan mungkin jauh dari adanya penjelasan memuaskan dengan tuntas.”
15
Dengan membuat sketsa tentang matarantai yaitu “Australopithecus > Homo habilis > Homo erectus > Homo sapiens”, para evolusionis menyiratkan bahwa masing-masing dari spesies ini adalah moyang satu sama lain. Akan tetapi, penemuan-penemuan terbaru dari para ahli fosil mengungkapkan bahwa Australopithecus, Homo habilis, dan Homo erectus hidup di berbagai bagian dunia ini pada waktu yang sama.16
Lagi pula, sebuah segmen tertentu dari manusia yang digolongkan sebagai Homo erectus hidup hingga zaman yang sangat modern. Homo sapiens neandarthalensis dan Homo sapiens sapiens (manusia modern) hidup secara berdampingan di wilayah yang sama.17
Situasi ini tampaknya menunjukkan tidak validnya klaim bahwa mereka adalah moyang satu sama lain. Seorang ahli fosil dari Harvard University, Stephen Jay Gould, menerangkan kebuntuan teori evolusi ini walaupun dia sendiri adalah seorang evolusionis:
Apa yang terjadi pada “pohon kekerabatan” kita jika terdapat tiga garis keturunan hominid yang hidup bersama (A. africanus, Australopithecus yang kekar, dan H. habilis), yang mana tak satu pun jelas-jelas berasal dari yang lainnya? Lagi pula, tak satu pun dari ketiganya memperlihatkan kecenderungan evolusi apa pun pada masa hidupnya di muka bumi.18
Singkat kata, skenario evolusi manusia, yang diusahakan dengan dukungan alat bantu berbagai gambar beberapa makhluk “setengah kera, setengah manusia” yang muncul di media dan buku-buku pelajaran, yaitu sebagai sarana propaganda secara terang-terangan, tak lain hanyalah dongeng yang tidak memiliki landasan ilmiah.
Lord Solly Zuckerman, salah seorang ilmuwan paling terkenal dan disegani di Inggris, yang telah melakukan penelitian pada pokok pembahasan ini selama bertahun-tahun, dan khususnya mempelajari fosil-fosil Australopithecus selama 15 tahun, akhirnya menyimpulkan — meskipun dirinya sendiri adalah seorang evolusionis — bahwa sesungguhnya tidak terdapat pohon keluarga yang bercabang ke luar dari makhlukmakhluk seperti kera ke manusia.
Zuckerman juga membuat sebuah “spektrum sains” yang menarik. Dia membuat sebuah spektrum sains yang memiliki rentang dari yang dipandangnya ilmiah hingga yang dipandangnya tidak ilmiah. Menurut spektrum Zuckerman, bidang sains yang paling “ilmiah” — yaitu, tergantung pada data konkret — adalah kimia dan fisika. Setelah itu barulah ilmuilmu biologi dan kemudian ilmu pengetahuan sosial. Jauh di ujung spektrum tersebut, yang merupakan bagian yang dipandang paling “tidak ilmiah”, adalah “persepsi ekstra sensoris” — konsep-konsep seperti telepati dan indera keenam — dan terakhir adalah “evolusi manusia”. Zuckerman menerangkan penalarannya:
Kita pun kemudian tergerak menjauhi daftar kebenaran obyektif dan merambah ke bidang-bidang yang disangka sebagai ilmu biologi, seperti pengetahuan yang diperoleh tanpa menggunakan panca indera atau penafsiran sejarah fosil manusia, yang mana bagi penganut setia (pada evolusi) apa saja adalah mungkin — dan yang mana bagi seorang yang sangat percaya (terhadap evolusi) kadang-kadang bisa saja mempercayai sekian banyak hal yang bertentangan pada saat yang sama.19
Dongeng evolusi manusia tidak membuat informasi penting apa pun kecuali berbagai interpretasi yang sifatnya pra-anggapan terhadap sebagian fosil yang digali oleh orang-orang tertentu, yang berpegang teguh secara membabi buta pada teori mereka.
  • TEKNOLOGI DI DALAM MATA DAN TELINGA
Pokok pembahasan lain yang masih tak terjawab oleh teori evolusi adalah kualitas persepsi yang luar biasa hebat di dalam mata dan telinga.
Sebelum melanjutkan pada pokok pembahasan mengenai mata, mari kita jawab secara singkat pertanyaan tentang “bagaimana kita melihat”. Berkas cahaya yang datang dari sebuah benda jatuh berlawanan pada retina mata. Di sini, berkas cahaya ini diteruskan dalam bentuk sinyal-sinyal listrik oleh sel-sel dan sampai pada sebuah titik kecil di belakang otak yang disebut pusat penglihatan. Sinyal-sinyal listrik ini ditangkap di dalam pusat otak tadi sebagai sebuah citra setelah melewati serangkaian proses. Dengan latar belakang teknis ini, mari kita berpikir sedikit.
Otak terisolasi dari cahaya. Artinya adalah bahwa bagian dalam otak gelap gulita, dan cahaya tidak sampai ke lokasi di mana otak berada. Tempat yang disebut sebagai pusat penglihatan tadi adalah sebuah tempat yang gelap gulita di mana tak pernah ada cahaya yang pernah mencapainya; mungkin bisa jadi adalah tempat tergelap yang pernah anda ketahui. Meskipun demikian, anda mengamati sebuah dunia yang bercahaya dan terang di dalam tempat yang gelap gulita ini.
Citra yang terbentuk di dalam mata begitu tajam dan jelas yang bahkan teknologi abad ke-20 belum mampu mencapainya. Misalnya, lihatlah buku yang sedang anda baca ini, kedua tangan anda yang memegangnya, lalu angkatlah kepala anda dan lihatlah ke sekeliling diri anda. Pernahkah anda melihat citra yang setajam dan sejelas ini di tempat lain mana pun? Bahkan layar televisi yang paling canggih buatan pabrik televisi terbesar di dunia ini pun tak dapat memberikan citra yang setajam ini bagi anda. Ini adalah sebuah citra tiga dimensi, berwarna, dan sangat tajam. Selama lebih dari 100 tahun, sudah ribuan insinyur berusaha untuk mencapai ketajaman ini. Pabrik-pabrik, gagasan-gagasan besar telah diajukan, banyak penelitian sudah dilakukan, berbagai rancangan dan desain telah dibuat untuk mencapai tujuan ini. Sekali lagi, lihatlah ke layar TV dan buku yang anda pegang ini. Anda akan melihat ada sebuah perbedaan besar dari segi ketajaman dan kejelasannya. Di samping itu, layar TV memperlihatkan kepada anda sebuah citra dua dimensi, sedangkan dengan kedua mata anda, anda melihat sebuah perspektif tiga dimensi yang memiliki kedalaman.
Selama bertahun-tahun, puluhan ribu insinyur telah berusaha membuat TV tiga dimensi, dan mencapai kualitas daya penglihatan mata. Ya, mereka telah membuat sebuah sistem televisi tiga dimensi namun tidak mungkin untuk menontonnya tanpa mengenakan kacamata khusus; lagi pula, itu pun hanyalah tiga dimensi buatan. Latar belakangnya lebih kabur, latar depannya tampak seperti setting kertas. Tak pernah mungkin menghasilkan gambar yang tajam dan jelas seperti mata. Baik pada kamera dan televisi, terdapat kualitas gambar yang hilang.
Para evolusionis mengklaim bahwa mekanisme yang menghasilkan gambar yang tajam dan jelas ini telah terbentuk secara kebetulan. Kini, bila seseorang mengatakan kepada anda bahwa televisi di kamar anda terbentuk sebagai hasil dari kebetulan, bahwa semua atomnya secara kebetulan berkumpul menjadi satu dan menyusun alat yang menghasilkan sebuah gambar, bagaimana menurut anda? Bagaimana atom-atom tersebut melakukan sesuatu yang tak dapat dilakukan oleh ribuan orang?
Bila sebuah alat yang menghasilkan sebuah gambar yang lebih primitif daripada mata tidak mungkin terbentuk secara kebetulan, maka sangat jelaslah bahwa mata dan gambar yang dilihat oleh mata tidak mungkin terbentuk secara kebetulan pula. Situasi yang sama berlaku juga pada telinga. Telinga luar menangkap bunyi-bunyi yang ada pada aurikel dan mengarahkannya ke telinga tengah; telinga tengah meneruskan getarangetaran bunyi dengan mengintensifkannya; telinga bagian dalam mengirimkan getaran-getaran ini ke otak dengan menerjemahkannya ke dalam sinyal-sinyal listrik. Sebagaimana halnya pada mata, aksi mendengar berakhir di pusat pendengaran di otak.
Situasi di dalam mata juga berlaku pada telinga. Yaitu, otak terisolasi dari bunyi sebagaimana halnya dari cahaya: ia tak membiarkan bunyi apa pun masuk. Dengan demikian, tak peduli seribut apa pun keadaan di luar, bagian dalam otak sama sekali sunyi. Akan tetapi, bunyi yang paling tajam ditangkap dan dirasakan di dalam otak. Di dalam otak anda, yang terisolasi dari bunyi, anda mendengarkan simfoni sebuah orkestra, dan mendengarkan semua hiruk pikuk di sebuah tempat keramaian. Akan tetapi, andaikata tingkat bunyi di dalam otak anda diukur oleh sebuah alat yang akurat pada saat itu, akan terlihat bahwa keadaan yang berlaku di sana adalah kesunyian belaka.
Sebagaimana halnya kasus yang terjadi pada pencitraan atau gambar, sudah puluhan tahun usaha dicurahkan dalam rangka menghasilkan dan mereproduksi bunyi yang tepat dengan aslinya. Hasil dari berbagai upaya ini adalah perekam bunyi (sound recorder), sistem HI-FI (high-fidelity system), dan sistemsistem untuk mengindera bunyi. Walaupun adanya semua teknologi ini dan ribuan insinyur dan pakar telah bekerja dalam tugas besar ini, belum ada bunyi yang berhasil memiliki ketajaman dan kejernihan sebagaimana halnya bunyi yang ditangkap oleh telinga. Pikirkan kualitas tertinggi sistem HIFI yang dihasilkan oleh perusahaan terbesar dalam industri musik. Bahkan di dalam alat-alat ini, tatkala bunyi direkam maka sebagiannya ada yang hilang; atau tatkala anda menyalakan sebuah HI-FI maka anda selalu mendengar desisan sebelum musiknya dimulai. Akan tetapi, bunyi yang dihasilkan oleh teknologi tubuh manusia amat sangat tajam dan jernih. Telinga manusia tak pernah menangkap suatu bunyi yang disertai oleh desisan atau bunyi atmosferis sebagaimana halnya HI-FI; ia menangkap bunyi tepat sebagaimana adanya, tajam dan jernih. Demikianlah adanya semenjak manusia diciptakan.
Sejauh ini, tak ada perangkat visual atau perekam buatan manusia yang memiliki kepekaan dan keberhasilan dalam menangkap data sensoris sebagaimana halnya mata dan telinga.
Walaupun demikian, sejauh yang berkaitan tentang penglihatan dan pendengaran, sebuah fakta yang lebih luhur ada di balik semua ini.
  • MILIK SIAPAKAH KESADARAN YANG MELIHAT DAN MENDENGAR DI DALAM OTAK INI?

Siapakah dia yang menyaksikan dunia yang mempesona di dalam otaknya, mendengarkan berbagai simponi dan kicau burung-burung, dan mencium keharuman bunga mawar?
Rangsangan yang berasal dari mata, telinga, dan hidung manusia menuju ke otak sebagai impuls-impuls syaraf listrik kimiawi. Dalam buku-buku biologi, fisiologi, dan biokimia, anda dapat memperoleh banyak rincian tentang bagaimana citra ini terbentuk di dalam otak. Bagaimana tidak akan pernah terbayangkan pada diri anda fakta terpenting mengenai pokok pembahasan ini:

Siapakah yang menangkap impuls-impuls syaraf listrik kimiawi sebagai citra, bunyi, bau, dan peristiwaperistiwa sensoris di dalam otak? Ada sebuah kesadaran di dalam otak yang menangkap dan merasakan semua ini tanpa merasa perlu memiliki mata, telinga, dan hidung. Milik siapakah kesadaran ini? Tak diragukan bahwa kesadaran ini bukanlah milik syaraf-syaraf, lapisan lemak, dan neuron yang menyusun otak. Inilah sebabnya mengapa para materialis Darwinian, yang meyakini bahwa segala hal terdiri dari materi, tak mampu memberikan jawaban apa pun atas pertanyaan-pertanyaan ini.
Kesadaran ini adalah ruh yang diciptakan oleh Allah. Ruh ini tak memerlukan mata untuk menyaksikan gambar, ataupun telinga untuk mendengar bunyi. Lagi pula, ia tak memerlukan otak untuk berpikir.
Setiap orang yang membaca fakta yang eksplisit dan ilmiah ini hendaknya berpikir mendalam tentang Allah Yang Mahakuasa, hendaknya bertakwa dan berlindung kepada-Nya, Dia-lah Yang telah menjejalkan seluruh alam semesta ini ke dalam sebuah tempat yang gelap gulita yang volumenya beberapa sentimeter kubik saja dalam bentuk tiga dimensi, berwarna, memiliki bayang-bayang, dan bercahaya.
  • KEYAKINAN MATERIALIS

Informasi yang telah kami sajikan sejauh ini memperlihatkan kepada kita bahwa teori evolusi adalah sebuah klaim yang jelas-jelas tidak sejalan dengan penemuan-penemuan ilmiah. Klaim teori ini mengenai asal-usul kehidupan tidak konsisten dengan sains, mekanisme evolusi yang diajukannya tidak memiliki kekuatan evolusioner, dan fosil-fosil menunjukkan bahwa bentuk-bentuk peralihan yang menjadi syarat teori ini tidak pernah ada. Maka, tentu saja selanjutnya teori ini mesti disisihkan sebagai sebuah pemikiran yang tidak ilmiah. Inilah bagaimana sekian banyak pemikiran seperti model bumi sebagai pusat alam semesta telah dicabut dari agenda sains di sepanjang sejarah.
Akan tetapi, teori evolusi tetap disimpan rapat-rapat dalam agenda sains. Beberapa orang bahkan berupaya untuk menggambarkan kritikan yang diarahkan terhadap teori ini sebagai sebuah “serangan terhadap sains”. Mengapa?
Alasannya adalah karena teori evolusi adalah sebuah kepercayaan dogmatis bagi beberapa kalangan. Kalangan-kalangan ini dengan membabi buta bersikap setia pada filsafat materialisme dan mengadopsi Darwinisme karena inilah satu-satunya penjelasan materialis yang dapat dikemukakan mengenai bagaimana proses bekerjanya alam ini.
Cukup menarik, mereka juga mengakui fakta ini dari waktu ke waktu. Seorang ahli genetika terkenal dan seorang evolusionis yang lantang, Richard C. Lewontin dari Harvard University, mengakui bahwa dirinya “pertama-tama dan terutama adalah seorang materialis dan kemudian barulah seorang ilmuwan”:
Bagaimanapun bukanlah metode-metode dan lembagalembaga ilmu pengetahuan itu yang membuat kami menerima sebuah penjelasan material tentang fenomena dunia, namun justru sebaliknya, kami dipaksa oleh kesetiaan kami yang sifatnya a priori kepada sebab-sebab material untuk menciptakan sebuah alat penyelidikan dan seperangkat konsep yang menghasilkan penjelasan-penjelasan yang bersifat material, tak peduli betapapun hal ini bertentangan dengan intuisi, tak peduli betapapun membingungkannya bagi orang yang masih awam. Lagi pula, materialisme adalah absolut, maka kita tidak dapat membiarkan adanya pembahasan yang berhubungan dengan Tuhan dalam hal ini.20
Ini adalah pernyataan-pernyataan yang tersurat bahwa Darwinisme adalah sebuah dogma yang tetap hidup hanya demi kesetiaan terhadap filsafat materialisme. Dogma ini mempertahankan bahwa tak ada wujud kecuali materi. Dengan demikian, argumen yang dikemukakannya adalah bahwa materi tak bernyawa dan tidak memiliki kesadaran itulah yang menciptakan kehidupan. Teori ini dengan gigih menyatakan bahwa jutaan ragam spesies makhluk hidup; misalnya, burung, ikan, jerapah, harimau, serangga, pohon, bunga, ikan paus, dan manusia berasal dari hasil interaksi di antara materi seperti hujan yang turun, kilat yang bercahaya, dsb., berasal dari materi yang tak hidup. Ini adalah sebuah ajaran yang bertentangan baik dengan akal dan sains. Namun para Darwinian terus mempertahankannya sedemikian itu hanya demi agar “tidak membiarkan adanya pembahasan tentang Tuhan dalam hal ini.”
Siapa pun yang tidak melihat ke asal-usul makhluk hidup dengan sebuah prasangka materialis akan melihat kebenaran yang sangat jelas ini: Semua makhluk hidup adalah karya Sang Pencipta, Yang Mahakuasa, Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui. Sang Pencipta ini adalah Allah, yang telah menciptakan seluruh alam semesta dari ketidakadaan, mendesainnya dalam bentuk yang paling sempurna, dan memberi bentuk kepada semua makhluk hidup.
  • TEORI EVOLUSI ADALAH MANTRA SIHIR PALING AMPUH DI DUNIA

Patut untuk memberikan penegasan di sini bahwa siapa pun yang terlepas dari prasangka dan pengaruh dari ideologi tertentu, yakni yang hanya menggunakan nalar dan logika berpikirnya, akan dapat memahami dengan gamblang bahwa menerima begitu saja sebagai suatu kebenaran pada teori evolusi — yang menyajikan kepada nalar berbagai takhayul dari masyarakat-masyarakat yang tak memiliki pengatahuan atau budaya — adalah sangat mustahil.
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, mereka yang mempercayai teori evolusi berpikir bahwa beberapa unsur atom dan molekul yang diletakkan di dalam suatu tangki kosong yang besar mampu memproduksi sendiri aktivitas berpikir, penalaran, para profesor, mahasiswa, ilmuwan seperti Einstein dan Galileo, seniman sekaliber Humphrey Bogart [terkenal dengan perannya dalam film Casablanca, 1942, peny.], Frank Sinatra dan Luciano Pavarotti, demikian juga antilop, buah lemon dan bunga mawar berwarna pink [Dianthus caryophyllus, peny.]. Lebih jauh lagi, para ilmuwan dan guru-guru besar yang mempercayai kebohongan ini adalah tokohtokoh yang terpelajar. Inilah yang menjadi alasan yang amat dapat dibenarkan untuk menyatakan bahwa teori evolusi sebagai “mantra sihir paling ampuh sepanjang sejarah”. Belum pernah sebelumnya sistem kepercayaan atau gagasan lain apa pun yang begitu dapat mempengaruhi daya nalar manusia, sampai enggan untuk membiarkan kemampuan nalar itu agar berpikir cerdas dan logis, dan begitu gigih menutup-nutupi kebenaran dari nalar seakan-akan potensi berpikir ini telah dibutakan. Ini bahkan kebutaan yang lebih burruk dan tidak dapat dipercaya ketimbang bangsa Mesir yang menyembah Ra, Dewa Matahari, penyembahan totem di beberapa bagian dari belahan benua Afrika, rakyat Saba’ [Yaman Selatan, sebelum bersatu, peny.] yang menyembah matahari, suku bangsa Nabi Ibrahim yang menyembah berhala yang mereka buat sendiri dengan tangan mereka atau umat Nabi Musa yang menyembah Anak Sapi yang terbuat dari emas.
Sesungguhnya, keadaan ini adalah dampak dari tidak digunakannya nalar seperti yang telah diisyaratkan oleh Allah dalam al-Qur’an. Dia mewahyukan dalam banyak ayat bahwa sebagian akal pikiran kelompok manusia akan dibuat tidak berfungsi dan mereka akan tidak mempunyai kemampuan untuk melihat kebenaran. Beberapa dari ayat itu adalah sebagai berikut:
Bagi orang-orang yang tidak beriman, sama saja bagi mereka apakah engkau memberi peringatan kepada mereka, atau tidak [memberi mereka peringatan], mereka tidak akan beriman. Allah telah menutup erat-erat kalbukalbu dan pendengaran mereka, sedangkan penglihatan mereka diberi penutup. Mereka akan mendapatkan hukuman siksaan yang mengerikan. (Q.s. al-Baqarah: 6-7).
... Mereka memiliki kalbu-kalbu yang tidak digunakan untuk memahami. Mereka memiliki mata [hati] yang tidak dipergunakan untuk mengamati. Mereka memiliki telingatelinga yang tidak digunakan untuk mendegarkan. Orang-orang semacam itu seperti binatang ternak. Sama sekali tidak, mereka bahkan lebih jauh tersesat! Mereka adalah yang tidak memiliki kesadaran. (Q.s. al-A‘raf: 179).
Bahkan, jika kami bukakan bagi mereka salah satu pintu menuju langit, dan menghabiskan waktunya melakukan pendakian menembus [langit] itu, mereka sebatas akan mengucapkan kata-kata, “Penglihatan-penglihatan mata [kalbu] kami telah dibuat tidak berpikir jernih! Atau lebih buruk kami telah dikuasai di bawah pengaruh [mantra] sihir!” (Q.s. al-Hijr: 14-15).
Ungkapan kata-kata tidak dapat melukiskan betapa mengherankannya kejadian semacam itu bahwa mantra sihir telah mencengkeram erat kelompok besar suatu masyarakat di bawah kendali pengaruhnya, menghalangi sekelompok orang dari kebenaran, yang tidak dapat dipatahkan selama 150 tahun. Mudah untuk mencari alasan yang dapat dipahami dari seseorang atau sekelompok kecil masyarakat begitu rela untuk percaya pada skenario dan klaim-klaim yang sukar dipercaya penuh dengan kebodohan dan kepalsuan dari segi logika berpikir. Meskipun begitu, “sihir” adalah penjelasan yang paling memungkinkan ditujukan bagi kelompok manusia dari pelbagai penjuru dunia yang mempercayai bahwa unsur-unsur atom yang tidak memiliki kesadaran dan ruh secara tiba-tiba memutuskan atas kemauannya saling menggabungkan diri dan membentuk alam semesta yang menjalankan fungsinya, tanpa adanya suatu sistem pengaturan yang tidak memiliki cacat, memiliki disiplin, nalar, dan kesadaran; membentuk planet Bumi beserta panoramanya dengan begitu sempurna untuk mendukung kehidupan, dan membentuk makhluk hidup penuh dengan sistem yang amat kompleks.
Sesunggguhnya, Allah menyatakan dalam wahyu-Nya tentang kisah peristiwa antara Musa dan Firaun bahwa sebagian kelompok manusia yang mendukung filsafat ateistik sebenarnya mempengaruhi orang-orang lain melalui sihir. Tatkala Firaun diberi penjelasan tentang ajaran agama yang benar, dia bertitah kepada Nabi Musa untuk menemui ahli-ahli sihir di istananya. Ketika Nabi Musa melakukannya, dia menyuruh mereka untuk meperlihatkan kemampuan mereka lebih dahulu. Ayat di dalam al-Qur’an lantas melanjutkan:
Dia [Musa] berkata, “Lemparkanlah!” Dan tatkala mereka melemparkan, ahli-ahli sihir itu menebarkan [mantra-mantra] sihir ke penglihatan orang-orang dan mempengaruhi yang hadir dengan ketakutan yang besar terhadap mereka. Para ahli sihir itu mengeluarkan sihir yang sangat kuat. (Q.s. al-A‘raf: 116).
Sebagaimana yang dapat kita pahami, ahli-ahli sihir Firaun mampu menipu setiap orang, kecuali Nabi Musa dan orang-orang yang beriman kepada ajarannya. Meskipun begitu, kebenaran yang nyata yang dihadirkan oleh Nabi Musa dapat mematahkan mantra sihir itu, atau “telah menelan apa yang telah mereka buat dengan tangan mereka” sebagaimana yang dijelaskan oleh ayat berikut ini.
Kami wahyukan kepada Musa, “Jatuhkanlah tongkat kayu milikmu.” Dan tongkat itu langsung saja telah menelan apa yang telah mereka buat dengan tangan mereka. Demikianlah, kebenaran menjadi nyata, dan apa yang mereka perbuat ditunjukkan sebagai kepalsuan. (Q.s. al-A‘raf: 117-119).
Sebagaimana yang dapat dipahami dari ayat di atas, tatkala ditunjukkan bahwa perbuatan kelompok orang yang pertama kali menebarkan mantra-mantra ini kepada orang lain semata mata adalah tipuan ilusi, pelaku-pelakunya kehilangan muatan nilai-nilai yang membuat dia dipercaya. Pada hari ini pun, kecuali mereka yang berada di bawah pengaruh mantra sihir serupa mempercayai klaim-klaim pendapat [penganut teori evolusi] yang konyol itu di balik kedok sikap ilmiah mereka dan menghabiskan usia mereka membela hal [yang konyol] biarkanlah mereka, orang-orang itu juga nantinya akan merasa dipermalukan tatakala kebenaran yang sepenuhnya akan muncul dan mantra [sihirnya] itu dipatahkan. Pada kenyataannya, Malcolm Muggeridge, seorang filosof ateis dan pendukung teori evolusi mengakui dia khawatir hanya dengan kemungkinan semacam itu di masa mendatang.
Saya sendiri yakin bahwa teori evolusi, khususnya sejauh yang selama ini telah diterapkan, akan berubah menjadi salah satu lelucon terbesar dalam buku-buku sejarah di masa depan. Generasi di masa yang akan datang kelak terheranheran dan bertanya-tanya bagaimana bisa suatu hipotesis yang begitu tidak meyakinkan dan meragukan dapat diterima sedemikian rupa dengan muatan-muatan diterima secara amat tergesa-gesa di dalamnya.21
Masa depan itu tidaklah begitu jauh: Sebaliknya, orang-orang secepatnya akan melihat bahwa teori “kebetulan” tidak mengandung kebaikan, dan akan meninjau ulang teori evolusi sebagai penipuan dan mantra yang paling buruk di dunia. Mantra sihir ini mulai dengan amat cepat diangkat dari kalbu orang-orang di berbagai penjuru dunia. Banyak orang yang bertanya-tanya dengan penasaran bagaimana bisa bahwa mereka pernah tertipu oleh kebohongan itu.
Mereka menjawab: “Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha mengetahui lagi Mahabijaksana.” (Surat al-Baqarah: 32).
 
  1. Hugh Ross, The Fingerprint of God, hlm. 50.
  2. Sidney Fox dan Klaus Dose, Molecular Evolution and The Origin of Live (San Francisco: W. H. Freeman and Company, 1972), hlm 4
  3. Alexander I. Oparin, Origin of Life (New York: Dover Publication, 1953 [reprint]), hlm. 196.
  4. “New Evidence on Evolution of Early Atmosphere and Life”,
    Buletin Masyarakat Meteorologi Amerika Serikat, vol. 63, bulan November 1982, hlm. 1328-1330.
  5. Stanley Miller, Molecular Evolution of Live: Current Status of the Prebiotic Synthesis of Small Molecules, 1986, hlm. 7.
  6. Jeffrey Bada, Earth, Februari 1998, hlm. 40.
  7. Leslie E. Orgel, “The Origin of Life on Earth”, Scientific American, vol. 271, bulan Oktober 1994, hlm. 78.
  8. Charles Darwin, The Origin of Species by Means of Natural Selection, (New York: The Modern Library, t.t.), hlm. 127.
  9. Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition, (Harvard: Harvard University Press, 1964), hlm. 184.
  10. B. G. Ranganathan, Origin? (Pennsylvania: The Banner of Truth Trust, 1988), hlm. 7.
  11. Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition (Harvard: Harvard University Press, 1964), hlm. 179.
  12. Derek A. Ager, “The Nature of the Fossil Record”,
    Laporanlaporan yang Dipublikasikan oleh Asosiasi Geologi Inggris, vol. ke-87, 1976, hlm. 133.
  13. Douglas J. Futuyma, Science on Trial (New York: Pantheon Book, 1983), hlm. 197.
  14. Solly Zuckerman, Beyond The Ivory Tower (New York: Toplinger Publication, 1970), hlm. 75-94;
    Charles E. Oxnard, “The Place of Australopithecines in Human Evolution: Grounds for Doubt”, Nature, vol. ke-258, hlm. 389.
  15. “Dapatkah sains dituntaskan untuk selamanya oleh keyakinan para ilmuan bahwa mereka telah memberi jawaban yang final atau keengganan masyarakat untuk memberikan perhatian?” Scientific American, Desember 1992, hlm. 20.
  16. Alan Walker, Science, vol. 207, edisi 7 Maret 1980, hlm. 1103; A. J. Kelso, Physical Anthropology, edisi I, J. B. Lipincott Co.,
    New York, 1970, hlm. 221; M. D. Leakey, Olduvai Gorge, vol. III (Cambridge: Cambridge University Press, 1971), hlm. 272.
  17. Jeffrey Kluger, “Not So Extinct After All: The Primitive Homo Erectus May Have Survived Long Enough to Coexist with Modern Humans”, Majalah Time, edisi 23 Desember 1996.
  18. S. J. Gould, Natural History, vol. ke-85, 1976, hlm. 30.
  19. Solly Zuckerman, Beyond the Ivory Tower, hlm. 19.
  20. Richard Lewontin, “The Demon-Haunted World”, The New York Review of Books, edisi 9 Januari 1997, hlm. 28.
  21. Malcolm Muggeridge, The End of Christendom, Grand Rapids, Eerdmans, 1980, hlm. 43.
 





AL-QUR'AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT

Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"

Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.
Pada kedua ayanh dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"

Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."

acara pembukaan Dauarah Marhalah 2 KAMMI Kalsel


contoh sepanduk maulid


MUHAMMAD DARI KELAHIRAN - PERKAWINANNYA

Perkawinan Abdullah dengan Aminah
Usia Abd'l-Muttalib sudah hampir mencapai tujuhpuluh tahun atau lebih tatkala Abraha mencoba menyerang Mekah dan menghancurkan Rumah Purba. Ketika itu umur Abdullah anaknya sudah duapuluh empat tahun, dan sudah tiba masanya dikawinkan. Pilihan Abd'l-Muttalib jatuh kepada Aminah bint Wahb bin Abd Manaf bin Zuhra, - pemimpin suku Zuhra ketika itu yang sesuai pula usianya dan mempunyai kedudukan terhormat. Maka pergilah anak-beranak itu hendak mengunjungi keluarga Zuhra. Ia dengan anaknya menemui Wahb dan melamar puterinya. Sebagian penulis sejarah berpendapat, bahwa ia pergi menemui Uhyab, paman Aminah, sebab waktu itu ayahnya sudah meninggal dan dia di bawah asuhan pamannya. Pada hari perkawinan Abdullah dengan Aminah itu, Abd'l-Muttalib juga kawin dengan Hala, puteri pamannya. Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah, paman Nabi dan yang seusia dengan dia.

Abdullah dengan Aminah tinggal selama tiga hari di rumah Aminah, sesuai dengan adat kebiasaan Arab bila perkawinan dilangsungkan di rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah itu mereka pindah bersama-sama ke keluarga Abd'l-Muttalib. Tak seberapa lama kemudian Abdullahpun pergi dalam suatu usaha perdagangan ke Suria dengan meninggalkan isteri yang dalam keadaan hamil. Tentang ini masih terdapat beberapa keterangan yang berbeda-beda: adakah Abdullah kawin lagi selain dengan Aminah; adakah wanita lain yang datang menawarkan diri kepadanya? Rasanya tak ada gunanya menyelidiki keterangan-keterangan semacam ini. Yang pasti ialah Abdullah adalah seorang pemuda yang tegap dan tampan. Bukan hal yang luar biasa jika ada wanita lain yang ingin menjadi isterinya selain Aminah. Tetapi setelah perkawinannya dengan Aminah itu hilanglah harapan yang lain walaupun untuk sementara. Siapa tahu, barangkali mereka masih menunggu ia pulang dari perjalanannya ke Syam untuk menjadi isterinya di samping Aminah.

Dalam perjalanannya itu Abdullah tinggal selama beberapa bulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke Gaza dan kembali lagi. Kemudian ia singgah ke tempat saudara-saudara ibunya di Medinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam perjalanan. Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah ke Mekah. Akan tetapi kemudian ia menderita sakit di tempat saudara-saudara ibunya itu. Kawan-kawannyapun pulang lebih dulu meninggalkan dia. Dan merekalah yang menyampaikan berita sakitnya itu kepada ayahnya setelah mereka sampai di Mekah.

Abdullah Wafat
Begitu berita sampai kepada Abd'l-Muttalib ia mengutus Harith - anaknya yang sulung - ke Medinah, supaya membawa kembali bila ia sudah sembuh. Tetapi sesampainya di Medinah ia mengetahui bahwa Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan pula, sebulan sesudah kafilahnya berangkat ke Mekah. Kembalilah Harith kepada keluarganya dengan membawa perasaan pilu atas kematian adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa hati Abd'l-Muttalib, menimpa hati Aminah, karena ia kehilangan seorang suami yang selama ini menjadi harapan kebahagiaan hidupnya. Demikian juga Abd'l-Muttalib sangat sayang kepadanya sehingga penebusannya terhadap Sang Berhala yang demikian rupa belum pernah terjadi di kalangan masyarakat Arab sebelum itu.

Peninggalan Abdullah sesudah wafat terdiri dari lima ekor unta, sekelompok ternak kambing dan seorang budak perempuan, yaitu Umm Ayman - yang kemudian menjadi pengasuh Nabi. Boleh jadi peninggalan serupa itu bukan berarti suatu tanda kekayaan; tapi tidak juga merupakan suatu kemiskinan. Di samping itu umur Abdullah yang masih dalam usia muda belia, sudah mampu bekerja dan berusaha mencapai kekayaan. Dalam pada itu ia memang tidak mewarisi sesuatu dari ayahnya yang masih hidup itu.

Muhammad Lahir
Aminah sudah hamil, dan kemudian, seperti wanita lain iapun melahirkan. Selesai bersalin dikirimnya berita kepada Abd'l Muttalib di Ka'bah, bahwa ia melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya sudah ada. Cepat-cepat ia menemui menantunya itu, diangkatnya bayi itu lalu dibawanya ke Ka'bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal. Kemudian dikembalikannya bayi itu kepada ibunya. Kini mereka sedang menantikan orang yang akan menyusukannya dari Keluarga Sa'd (Banu Sa'd), untuk kemudian menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi adat kaum bangsawan Arab di Mekah.

Mengenai tahun ketika Muhammad dilahirkan, beberapa ahli berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun Gajah (570 Masehi). Ibn Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat kelahirannya itu limabelas tahun sebelum peristiwa gajah. Selanjutnya ada yang mengatakan ia dilahirkan beberapa hari atau beberapa bulan atau juga beberapa tahun sesudah Tahun Gajah. Ada yang menaksir tiga puluh tahun, dan ada juga yang menaksir sampai tujuhpuluh tahun.

Juga para ahli berlainan pendapat mengenai bulan kelahirannya. Sebagian besar mengatakan ia dilahirkan bulan Rabiul Awal. Ada yang berkata lahir dalam bulan Muharam, yang lain berpendapat dalam bulan Safar, sebagian lagi menyatakan dalam bulan Rajab, sementara yang lain mengatakan dalam bulan Ramadan.

Kelainan pendapat itu juga mengenai hari bulan ia dilahirkan. Satu pendapat mengatakan pada malam kedua Rabiul Awal, atau malam kedelapan, atau kesembilan. Tetapi pada umumnya mengatakan, bahwa dia dilahirkan pada tanggal duabelas Rabiul Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain.

Selanjutnya terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu kelahirannya, yaitu siang atau malam, demikian juga mengenai tempat kelahirannya di Mekah. Caussin de Perceval dalam Essai sur l'Histoire des Arabes menyatakan, bahwa Muhammad dilahirkan bulan Agustus 570, yakni Tahun Gajah, dan bahwa dia dilahirkan di Mekah di rumah kakeknya Abd'l-Muttalib.

Pada hari ketujuh kelahirannya itu Abd'l-Muttalib minta disembelihkan unta. Hal ini kemudian dilakukan dengan mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui bahwa anak itu diberi nama Muhammad, mereka bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyang. "Kuinginkan dia akan menjadi orang yang Terpuji1 bagi Tuhan di langit dan bagi makhlukNya di bumi," jawab Abd'l Muttalib.

Disusukan Oleh Keluarga Sa'd
Aminah masih menunggu akan menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang Keluarga Sa'd yang akan menyusukan anaknya, sebagaimana sudah menjadi kebiasaan bangsawan-bangsawan Arab di Mekah. Adat demikian ini masih berlaku pada bangsawan-bangsawan Mekah. Pada hari kedelapan sesudah dilahirkan anak itupun dikirimkan ke pedalaman dan baru kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh tahun. Di kalangan kabilah-kabilah pedalaman yang terkenal dalam menyusukan ini di antaranya ialah kabilah Banu Sa'd. Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Aminah menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah yang juga kemudian disusukannya. Jadi mereka adalah saudara susuan.

Sekalipun Thuwaiba hanya beberapa hari saja menyusukan, namun ia tetap memelihara hubungan yang baik sekali selama hidupnya. Setelah wanita itu meninggal pada tahun ketujuh sesudah ia hijrah ke Medinah, untuk meneruskan hubungan baik itu ia menanyakan tentang anaknya yang juga menjadi saudara susuan. Tetapi kemudian ia mengetahui bahwa anak itu juga sudah meninggal sebelum ibunya.

Akhirnya datang juga wanita-wanita Keluarga Sa'd yang akan menyusukan itu ke Mekah. Mereka memang mencari bayi yang akan mereka susukan. Akan tetapi mereka menghindari anak-anak yatim. Sebenarnya mereka masih mengharapkan sesuatu jasa dari sang ayah. Sedang dari anak-anak yatim sedikit sekali yang dapat mereka harapkan. Oleh karena itu di antara mereka itu tak ada yang mau mendatangi Muhammad. Mereka akan mendapat hasil yang lumayan bila mendatangi keluarga yang dapat mereka harapkan.

Akan tetapi Halimah bint Abi-Dhua'ib yang pada mulanya menolak Muhammad, seperti yang lain-lain juga, ternyata tidak mendapat bayi lain sebagai gantinya. Di samping itu karena dia memang seorang wanita yang kurang mampu, ibu-ibu lainpun tidak menghiraukannya. Setelah sepakat mereka akan meninggalkan Mekah. Halimah berkata kepada Harith bin Abd'l-'Uzza suaminya: "Tidak senang aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu dan akan kubawa juga."

"Baiklah," jawab suaminya. "Mudah-mudahan karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita."

Halimah kemudian mengambil Muhammad dan dibawanya pergi bersama-sama dengan teman-temannya ke pedalaman. Dia bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunyapun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya.

Selama dua tahun Muhammad tinggal di sahara, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima', puterinya. Udara sahara dan kehidupan pedalaman yang kasar menyebabkannya cepat sekali menjadi besar, dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan badannya. Setelah cukup dua tahun dan tiba masanya disapih, Halimah membawa anak itu kepada ibunya dan sesudah itu membawanya kembali ke pedalaman. Hal ini dilakukan karena kehendak ibunya, kata sebuah keterangan, dan keterangan lain mengatakan karena kehendak Halimah sendiri. Ia dibawa kembali supaya lebih matang, juga memang dikuatirkan dari adanya serangan wabah Mekah.

Dua tahun lagi anak itu tinggal di sahara, menikmati udara pedalaman yang jernih dan bebas, tidak terikat oleh sesuatu ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi.

Kisah Dua Malaikat dan Pembedahan Dada
Pada masa itu, sebelum usianya mencapai tiga tahun, ketika itulah terjadi cerita yang banyak dikisahkan orang. Yakni, bahwa sementara ia dengan saudaranya yang sebaya sesama anak-anak itu sedang berada di belakang rumah di luar pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak yang dari Keluarga Sa'd itu kembali pulang sambil berlari, dan berkata kepada ibu-bapanya: "Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil di balik-balikan."

Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan, bahwa mengenai diri dan suaminya ia berkata: "Lalu saya pergi dengan ayahnya ke tempat itu. Kami jumpai dia sedang berdiri. Mukanya pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami tanyakan: "Kenapa kau, nak?" Dia menjawab: "Aku didatangi oleh dua orang laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka cari."

Halimah dan suaminya kembali pulang ke rumah. Orang itu sangat ketakutan, kalau-kalau anak itu sudah kesurupan. Sesudah itu, dibawanya anak itu kembali kepada ibunya di Mekah. Atas peristiwa ini Ibn Ishaq membawa sebuah Hadis Nabi sesudah kenabiannya. Tetapi dalam menceritakan peristiwa ini Ibn Ishaq nampaknya hati-hati sekali dan mengatakan bahwa sebab dikembalikannya kepada ibunya bukan karena cerita adanya dua malaikat itu, melainkan - seperti cerita Halimah kepada Aminah - ketika ia di bawa pulang oleh Halimah sesudah disapih, ada beberapa orang Nasrani Abisinia memperhatikan Muhammad dan menanyakan kepada Halimah tentang anak itu. Dilihatnya belakang anak itu, lalu mereka berkata:

"Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di negeri kami. Anak ini akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui keadaannya." Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri dari mereka dengan membawa anak itu. Demikian juga cerita yang dibawa oleh Tabari, tapi ini masih di ragukan; sebab dia menyebutkan Muhammad dalam usianya itu, lalu kembali menyebutkan bahwa hal itu terjadi tidak lama sebelum kenabiannya dan usianya empatpuluh tahun.


Lima Tahun Selama Tinggal Di Pedalaman

Baik kaum Orientalis maupun beberapa kalangan kaum Muslimin sendiri tidak merasa puas dengan cerita dua malaikat ini dan menganggap sumber itu lemah sekali. Yang melihat kedua laki-laki (malaikat) dalam cerita penulis-penulis sejarah itu hanya anak-anak yang baru dua tahun lebih sedikit umurnya. Begitu juga umur Muhammad waktu itu. Akan tetapi sumber-sumber itu sependapat bahwa Muhammad tinggal di tengah-tengah Keluarga Sa'd itu sampai mencapai usia lima tahun. Andaikata peristiwa itu terjadi ketika ia berusia dua setengah tahun, dan ketika itu Halimah dan suaminya mengembalikannya kepada ibunya, tentulah terdapat kontradiksi dalam dua sumber cerita itu yang tak dapat diterima. Oleh karena itu beberapa penulis berpendapat, bahwa ia kembali dengan Halimah itu untuk ketiga kalinya.

Dalam hal ini Sir William Muir tidak mau menyebutkan cerita tentang dua orang berbaju putih itu, dan hanya menyebutkan, bahwa kalau Halimah dan suaminya sudah menyadari adanya suatu gangguan kepada anak itu, maka mungkin saja itu adalah suatu gangguan krisis urat-saraf, dan kalau hal itu tidak sampai mengganggu kesehatannya ialah karena bentuk tubuhnya yang baik. Barangkali yang lainpun akan berkata: Baginya tidak diperlukan lagi akan ada yang harus membelah perut atau dadanya, sebab sejak dilahirkan Tuhan sudah mempersiapkannya supaya menjalankan risalahNya. Dermenghem berpendapat, bahwa cerita ini tidak mempunyai dasar kecuali dari yang diketahui orang dari teks ayat yang berbunyi: "Bukankah sudah Kami lapangkan dadamu? Dan sudah Kami lepaskan beban dari kau? Yang telah memberati punggungmu?" (Qur'an 94: 1-3)

Apa yang telah diisyaratkan Qur'an itu adalah dalam arti rohani semata, yang maksudnya ialah membersihkan (menyucikan) dan mencuci hati yang akan menerima Risalah Kudus, kemudian meneruskannya seikhlas-ikhlasnya, dengan menanggung segala beban karena Risalah yang berat itu.

Dengan demikian apa yang diminta oleh kaum Orientalis dan pemikir-pemikir Muslim dalam hal ini ialah bahwa peri hidup Muhammad adalah sifatnya manusia semata-mata dan bersifat peri kemanusiaan yang luhur. Dan untuk memperkuat kenabiannya itu memang tidak perlu ia harus bersandar kepada apa yang biasa dilakukan oleh mereka yang suka kepada yang ajaib-ajaib. Dengan demikian mereka beralasan sekali menolak tanggapan penulis-penulis Arab dan kaum Muslimin tentang peri hidup Nabi yang tidak masuk akal itu. Mereka berpendapat bahwa apa yang dikemukakan itu tidak sejalan dengan apa yang diminta oleh Qur'an supaya merenungkan ciptaan Tuhan, dan bahwa undang-undang Tuhan takkan ada yang berubah-ubah. Tidak sesuai dengan ekspresi Qur'an tentang kaum Musyrik yang tidak mau mendalami dan tidak mau mengerti juga.

Muhammad tinggal pada Keluarga Sa'd sampai mencapai usia lima tahun, menghirup jiwa kebebasan dan kemerdekaan dalam udara sahara yang lepas itu. Dari kabilah ini ia belajar mempergunakan bahasa Arab yang murni, sehingga pernah ia mengatakan kepada teman-temannya kemudian: "Aku yang paling fasih di antara kamu sekalian. Aku dari Quraisy tapi diasuh di tengah-tengah Keluarga Sa'd bin Bakr."

Lima tahun masa yang ditempuhnya itu telah memberikan kenangan yang indah sekali dan kekal dalam jiwanya. Demikian juga Ibu Halimah dan keluarganya tempat dia menumpahkan rasa kasih sayang dan hormat selama hidupnya itu.

Penduduk daerah itu pernah mengalami suatu masa paceklik sesudah perkawinan Muhammad dengan Khadijah. Bilamana Halimah kemudian mengunjunginya, sepulangnya ia dibekali dengan harta Khadijah berupa unta yang dimuati air dan empat puluh ekor kambing. Dan setiap dia datang dibentangkannya pakaiannya yang paling berharga untuk tempat duduk Ibu Halimah sebagai tanda penghormatan. Ketika Syaima, puterinya berada di bawah tawanan bersama-sama pihak Hawazin setelah Ta'if dikepung, kemudian dibawa kepada Muhammad, ia segera mengenalnya. Ia dihormati dan dikembalikan kepada keluarganya sesuai dengan keinginan wanita itu.

Sesudah lima tahun, kemudian Muhammad kembali kepada ibunya. Dikatakan juga, bahwa Halimah pernah mencari tatkala ia sedang membawanya pulang ketempat keluarganya tapi tidak menjumpainya. Ia mendatangi Abd'l-Muttalib dan memberitahukan bahwa Muhammad telah sesat jalan ketika berada di hulu kota Mekah. Lalu Abd'l-Muttalibpun menyuruh orang mencarinya, yang akhirnya dikembalikan oleh Waraqa bin Naufal, demikian setengah orang berkata.

Di Bawah Asuhan Abd'l-Muttalib

Kemudian Abd'l-Muttalib yang bertindak mengasuh cucunya itu. Ia memeliharanya sungguh-sungguh dan mencurahkan segala kasih-sayangnya kepada cucu ini. Biasanya buat orang tua itu - pemimpin seluruh Quraisy dan pemimpin Mekah - diletakkannya hamparan tempat dia duduk di bawah naungan Ka'bah, dan anak-anaknya lalu duduk pula sekeliling hamparan itu sebagai penghormatan kepada orang tua. Tetapi apabila Muhammad yang datang maka didudukkannya ia di sampingnya diatas hamparan itu sambil ia mengelus-ngelus punggungnya. Melihat betapa besarnya rasa cintanya itu paman-paman Muhammad tidak mau membiarkannya di belakang dari tempat mereka duduk itu.

Lebih-lebih lagi kecintaan kakek itu kepada cucunya ketika Aminah kemudian membawa anaknya itu ke Medinah untuk diperkenalkan kepada saudara-saudara kakeknya dari pihak Keluarga Najjar.

Dalam perjalanan itu dibawanya juga Umm Aiman, budak perempuan yang ditinggalkan ayahnya dulu. Sesampai mereka di Medinah kepada anak itu diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal dulu serta tempat ia dikuburkan. Itu adalah yang pertama kali ia merasakan sebagai anak yatim. Dan barangkali juga ibunya pernah menceritakan dengan panjang lebar tentang ayah tercinta itu, yang setelah beberapa waktu tinggal bersama-sama, kemudian meninggal dunia di tengah-tengah pamannya dari pihak ibu. Sesudah Hijrah pernah juga Nabi menceritakan kepada sahabat-sahabatnya kisah perjalanannya yang pertama ke Medinah dengan ibunya itu. Kisah yang penuh cinta pada Medinah, kisah yang penuh duka pada orang yang ditinggalkan keluarganya.

Aminah Wafat
Sesudah cukup sebulan mereka tinggal di Medinah, Aminah sudah bersiap-siap akan pulang. Ia dan rombongan kembali pulang dengan dua ekor unta yang membawa mereka dari Mekah. Tetapi di tengah perjalanan, ketika mereka sampai di Abwa'2 ibunda Aminah menderita sakit, yang kemudian meninggal dan dikuburkan pula di tempat itu.

Anak itu oleh Umm Aiman dibawa pulang ke Mekah, pulang menangis dengan hati yang pilu, sebatang kara. Ia makin merasa kehilangan; sudah ditakdirkan menjadi anak yatim. Terasa olehnya hidup yang makin sunyi, makin sedih. Baru beberapa hari yang lalu ia mendengar dari Ibunda keluhan duka kehilangan Ayahanda semasa ia masih dalam kandungan. Kini ia melihat sendiri dihadapannya, ibu pergi untuk tidak kembali lagi, seperti ayah dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu.

Lebih-lebih lagi kecintaan Abd'l-Muttalib kepadanya. Tetapi sungguhpun begitu, kenangan sedih sebagai anak yatim-piatu itu bekasnya masih mendalam sekali dalam jiwanya sehingga di dalam Qur'anpun disebutkan, ketika Allah mengingatkan Nabi akan nikmat yang dianugerahkan kepadanya itu: "Bukankah engkau dalam keadaan yatim-piatu? Lalu diadakanNya orang yang akan melindungimu? Dan menemukan kau kehilangan pedoman, lalu ditunjukkanNya jalan itu?" (Qur'an, 93: 6-7)

Abd'l-Muttalib Wafat

Kenangan yang memilukan hati ini barangkali akan terasa agak meringankan juga sedikit, sekiranya Abd'l-Muttalib masih dapat hidup lebih lama lagi. Tetapi orang tua itu juga meninggal, dalam usia delapanpuluh tahun, sedang Muhammad waktu itu baru berumur delapan tahun. Sekali lagi Muhammad dirundung kesedihan karena kematian kakeknya itu, seperti yang sudah dialaminya ketika ibunya meninggal. Begitu sedihnya dia, sehingga selalu ia menangis sambil mengantarkan keranda jenazah sampai ketempat peraduan terakhir.

Bahkan sesudah itupun ia masih tetap mengenangkannya sekalipun sesudah itu, di bawah asuhan Abu Talib pamannya ia mendapat perhatian dan pemeliharaan yang baik sekali, mendapat perlindungan sampai masa kenabiannya, yang terus demikian sampai pamannya itupun akhirnya meninggal.

Sebenarnya kematian Abd'l-Muttalib ini merupakan pukulan berat bagi Keluarga Hasyim semua. Di antara anak-anaknya itu tak ada yang seperti dia: mempunyai keteguhan hati, kewibawaan, pandangan yang tajam, terhormat dan berpengaruh di kalangan Arab semua. Dia menyediakan makanan dan minuman bagi mereka yang datang berziarah, memberikan bantuan kepada penduduk Mekah bila mereka mendapat bencana. Sekarang ternyata tak ada lagi dari anak-anaknya itu yang akan dapat meneruskan. Yang dalam keadaan miskin, tidak mampu melakukan itu, sedang yang kaya hidupnya kikir sekali. Oleh karena itu maka Keluarga Umaya yang lalu tampil ke depan akan mengambil tampuk pimpinan yang memang sejak dulu diinginkan itu, tanpa menghiraukan ancaman yang datang dari pihak Keluarga Hasyim.

Di Bawah Asuhan Abu Talib
Pengasuhan Muhammad di pegang oleh Abu Talib, sekalipun dia bukan yang tertua di antara saudara-saudaranya. Saudara tertua adalah Harith, tapi dia tidak seberapa mampu. Sebaliknya Abbas yang mampu, tapi dia kikir sekali dengan hartanya. Oleh karena itu ia hanya memegang urusan siqaya (pengairan) tanpa mengurus rifada (makanan). Sekalipun dalam kemiskinannya itu, tapi Abu Talib mempunyai perasaan paling halus dan terhormat di kalangan Quraisy. Dan tidak pula mengherankan kalau Abd'l-Muttalib menyerahkan asuhan Muhammad kemudian kepada Abu Talib.

Abu Talib mencintai kemenakannya itu sama seperti Abd'l-Muttalib juga. Karena kecintaannya itu ia mendahulukan kemenakan daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang lebih menarik hati pamannya. Pernah pada suatu ketika ia akan pergi ke Syam membawa dagangan - ketika itu usia Muhammad baru duabelas tahun - mengingat sulitnya perjalanan menyeberangi padang pasir, tak terpikirkan olehnya akan membawa Muhammad. Akan tetapi Muhammad yang dengan ikhlas menyatakan akan menemani pamannya itu, itu juga yang menghilangkan sikap ragu-ragu dalam hati Abu Talib.

Pergi Ke Suria Dalam Usia Duabelas Tahun
Anak itu lalu turut serta dalam rombongan kafilah, hingga sampai di Bushra di sebelah selatan Syam. Dalam buku-buku riwayat hidup Muhammad diceritakan, bahwa dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan rahib Bahira, dan bahwa rahib itu telah melihat tanda-tanda kenabian padanya sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen. Sebagian sumber menceritakan, bahwa rahib itu menasehatkan keluarganya supaya jangan terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikuatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan berbuat jahat terhadap dia.

Dalam perjalanan itulah sepasang mata Muhammad yang indah itu melihat luasnya padang pasir, menatap bintang-bintang yang berkilauan di langit yang jernih cemerlang. Dilaluinya daerah-daerah Madyan, Wadit'l-Qura serta peninggalan bangunan-bangunan Thamud. Didengarnya dengan telinganya yang tajam segala cerita orang-orang Arab dan penduduk pedalaman tentang bangunan-bangunan itu, tentang sejarahnya masa lampau. Dalam perjalanan ke daerah Syam ini ia berhenti di kebun-kebun yang lebat dengan buab-buahan yang sudah masak, yang akan membuat ia lupa akan kebun-kebun di Ta'if serta segala cerita orang tentang itu. Taman-taman yang dilihatnya dibandingkannya dengan dataran pasir yang gersang dan gunung-gunung tandus di sekeliling Mekah itu. Di Syam ini juga Muhammad mengetahui berita-berita tentang Kerajaan Rumawi dan agama Kristennya, didengarnya berita tentang Kitab Suci mereka serta oposisi Persia dari penyembah api terhadap mereka dan persiapannya menghadapi perang dengan Persia.

Sekalipun usianya baru dua belas tahun, tapi dia sudah mempunyai persiapan kebesaran jiwa, kecerdasan dan ketajaman otak, sudah mempunyai tinjauan yang begitu dalam dan ingatan yang cukup kuat serta segala sifat-sifat semacam itu yang diberikan alam kepadanya sebagai suatu persiapan akan menerima risalah (misi) maha besar yang sedang menantinya. Ia melihat ke sekeliling, dengan sikap menyelidiki, meneliti. Ia tidak puas terhadap segala yang didengar dan dilihatnya. Ia bertanya kepada diri sendiri: Di manakah kebenaran dari semua itu?

Tampaknya Abu Talib tidak banyak membawa harta dari perjalanannya itu. Ia tidak lagi mengadakan perjalanan demikian. Malah sudah merasa cukup dengan yang sudah diperolehnya itu. Ia menetap di Mekah mengasuh anak-anaknya yang banyak sekalipun dengan harta yang tidak seberapa. Muhammad juga tinggal dengan pamannya, menerima apa yang ada. Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka yang seusia dia. Bila tiba bulan-bulan suci, kadang ia tinggal di Mekah dengan keluarga, kadang pergi bersama mereka ke pekan-pekan yang berdekatan dengan 'Ukaz, Majanna dan Dhu'l-Majaz, mendengarkan sajak-sajak yang dibawakan oleh penyair-penyair Mudhahhabat dan Mu'allaqat3. Pendengarannya terpesona oleh sajak-sajak yang fasih melukiskan lagu cinta dan puisi-puisi kebanggaan, melukiskan nenek moyang mereka, peperangan mereka, kemurahan hati dan jasa-jasa mereka. Didengarnya ahli-ahli pidato di antaranya orang-orang Yahudi dan Nasrani yang membenci paganisma Arab. Mereka bicara tentang Kitab-kitab Suci Isa dan Musa, dan mengajak kepada kebenaran menurut keyakinan mereka. Dinilainya semua itu dengan hati nuraninya, dilihatnya ini lebih baik daripada paganisma yang telah menghanyutkan keluarganya itu. Tetapi tidak sepenuhnya ia merasa lega.

Dengan demikian sejak muda-belia takdir telah mengantarkannya ke jurusan yang akan membawanya ke suatu saat bersejarah, saat mula pertama datangnya wahyu, tatkala Tuhan memerintahkan ia menyampaikan risalahNya itu. Yakni risalah kebenaran dan petunjuk bagi seluruh umat manusia.

Perang Fijar
Kalau Muhammad sudah mengenal seluk-beluk jalan padang pasir dengan pamannya Abu Talib, sudah mendengar para penyair, ahli-ahli pidato membacakan sajak-sajak dan pidato-pidato dengan keluarganya dulu di pekan sekitar Mekah selama bulan-bulan suci, maka ia juga telah mengenal arti memanggul senjata, ketika ia mendampingi paman-pamannya dalam Perang Fijar. Dan Perang Fijar itulah di antaranya yang telah menimbulkan dan ada sangkut-pautnya dengan peperangan di kalangan kabilah-kabilah Arab. Dinamakan Al-Fijar4 ini karena ia terjadi dalam bulan-bulan suci, pada waktu kabilah-kabilah seharusnya tidak boleh berperang. Pada waktu itulah pekan-pekan dagang diadakan di 'Ukaz, yang terletak antara Ta'if dengan Nakhla dan antara Majanna dengan Dhu'l-Majaz, tidak jauh dari 'Arafat. Mereka di sana saling tukar menukar perdagangan, berlumba dan berdiskusi, sesudah itu kemudian berziarah ke tempat berhala-berhala mereka di Ka'bah. Pekan 'Ukaz adalah pekan yang paling terkenal di antara pekan-pekan Arab lainnya. Di tempat itu penyair-penyair terkemuka membacakan sajak-sajaknya yang terbaik, di tempat itu Quss (bin Sa'ida) berpidato dan di tempat itu pula orang-orang Yahudi, Nasrani dan penyembah-penyembah berhala masing-masing mengemukakan pandangan dengan bebas, sebab bulan itu bulan suci.

Akan tetapi Barradz bin Qais dari kabilah Kinana tidak lagi menghormati bulan suci itu dengan mengambil kesempatan membunuh 'Urwa ar-Rahhal bin 'Utba dari kabilah Hawazin. Kejadian ini disebabkan oleh karena Nu'man bin'l-Mundhir setiap tahun mengirimkan sebuah kafilah dari Hira ke 'Ukaz membawa muskus, dan sebagai gantinya akan kembali dengan membawa kulit hewan, tali, kain tenun sulam Yaman. Tiba-tiba Barradz tampil sendiri dan membawa kafilah itu ke bawah pengawasan kabilah Kinana. Demikian juga 'Urwa lalu tampil pula sendiri dengan melintasi jalan Najd menuju Hijaz.

Adapun pilihan Nu'man terhadap 'Urwa (Hawazin) ini telah menimbulkan kejengkelan Barradz (Kinana), yang kemudian mengikutinya dari belakang, lalu membunuhnya dan mengambil kabilah itu. Sesudah itu kemudian Barradz memberitahukan kepada Basyar bin Abi Hazim, bahwa pihak Hawazin akan menuntut balas kepada Quraisy. Fihak Hawazin segera menyusul Quraisy sebelum masuknya bulan suci. Maka terjadilah perang antara mereka itu. Pihak Quraisy mundur dan menggabungkan diri dengan pihak yang menang di Mekah. Pihak Hawazin memberi peringatan bahwa tahun depan perang akan diadakan di 'Ukaz.

Perang demikian ini berlangsung antara kedua belah pihak selama empat tahun terus-menerus dan berakhir dengan suatu perdamaian model pedalaman, yaitu yang menderita korban manusia lebih kecil harus membayar ganti sebanyak jumlah kelebihan korban itu kepada pihak lain. Maka dengan demikian Quraisy telah membayar kompensasi sebanyak duapuluh orang Hawazin. Nama Barradz ini kemudian menjadi peribahasa yang menggambarkan kemalangan. Sejarah tidak memberikan kepastian mengenai umur Muhammad pada waktu Perang Fijar itu terjadi. Ada yang mengatakan umurnya limabelas tahun, ada juga yang mengatakan duapuluh tahun. Mungkin sebab perbedaan ini karena perang tersebut berlangsung selama empat tahun. Pada tahun permulaan ia berumur limabelas tahun dan pada tahun berakhirnya perang itu ia sudah memasuki umur duapuluh tahun.

Juga orang berselisih pendapat mengenai tugas yang dipegang Muhammad dalam perang itu. Ada yang mengatakan tugasnya mengumpulkan anak-anak panah yang datang dari pihak Hawazin lalu di berikan kepada paman-pamannya untuk dibalikkan kembali kepada pihak lawan. Yang lain lagi berpendapat, bahwa dia sendiri yang ikut melemparkan panah. Tetapi, selama peperangan tersebut telah berlangsung sampai empat tahun, maka kebenaran kedua pendapat itu dapat saja diterima. Mungkin pada mulanya ia mengumpulkan anak-anak panah itu untuk pamannya dan kemudian dia sendiripun ikut melemparkan. Beberapa tahun sesudah kenabiannya Rasulullah menyebutkan tentang Perang Fijar itu dengan berkata: "Aku mengikutinya bersama dengan paman-pamanku, juga ikut melemparkan panah dalam perang itu; sebab aku tidak suka kalau tidak juga aku ikut melaksanakan."

Sesudah Perang Fijar Quraisy merasakan sekali bencana yang menimpa mereka dan menimpa Mekah seluruhnya, yang disebabkan oleh perpecahan, sesudah Hasyim dan 'Abd'l-Muttalib wafat, dan masing-masing pihak berkeras mau jadi yang berkuasa. Kalau tadinya orang-orang Arab itu menjauhi, sekarang mereka berebut mau berkuasa. Atas anjuran Zubair bin 'Abd'l-Muttalib di rumah Abdullah bin Jud'an diadakan pertemuan dengan mengadakan jamuan makan, dihadiri oleh keluarga-keluarga Hasyim, Zuhra dan Taym. Mereka sepakat dan berjanji atas nama Tuhan Maha Pembalas, bahwa Tuhan akan berada di pihak yang teraniaya sampai orang itu tertolong. Muhammad menghadiri pertemuan itu yang oleh mereka disebut Hilf'l-Fudzul. Ia mengatakan, "Aku tidak suka mengganti fakta yang kuhadiri di rumah Ibn Jud'an itu dengan jenis unta yang baik. Kalau sekarang aku diajak pasti kukabulkan."

Seperti kita lihat, Perang Fijar itu berlangsung hanya beberapa hari saja tiap tahun. Sedang selebihnya masyarakat Arab kembali ke pekerjaannya masing-masing. Pahit-getirnya peperangan yang tergores dalam hati mereka tidak akan menghalangi mereka dari kegiatan perdagangan, menjalankan riba, minum minuman keras serta pelbagai macam kesenangan dan hiburan sepuas-puasnya

Adakah juga Muhammad ikut serta dengan mereka dalam hal ini? Ataukah sebaliknya perasaannya yang halus, kemampuannya yang terbatas serta asuhan pamannya membuatnya jadi menjauhi semua itu, dan melihat segala kemewahan dengan mata bernafsu tapi tidak mampu? Bahwasanya dia telah menjauhi semua itu, sejarah cukup menjadi saksi. Yang terang ia menjauhi itu bukan karena tidak mampu mencapainya. Mereka yang tinggal di pinggiran Mekah, yang tidak mempunyai mata pencarian, hidup dalam kemiskinan dan kekurangan, ikut hanyut juga dalam hiburan itu. Bahkan di antaranya lebih gila lagi dari pemuka-pemuka Mekah dan bangsawan-bangsawan Quraisy dalam menghanyutkan diri ke dalam kesenangan demikian itu.

Akan tetapi jiwa Muhammad adalah jiwa yang ingin melihat, ingin mendengar, ingin mengetahui. Dan seolah tidak ikut sertanya ia belajar seperti yang dilakukan teman-temannya dari anak-anak bangsawan menyebabkan ia lebih keras lagi ingin memiliki pengetahuan. Karena jiwanya yang besar, yang kemudian pengaruhnya tampak berkilauan menerangi dunia, jiwa besar yang selalu mendambakan kesempurnaan, itu jugalah yang menyebabkan dia menjauhi foya-foya, yang biasa menjadi sasaran utama pemduduk Mekah. Ia mendambakan cahaya hidup yang akan lahir dalam segala manifestasi kehidupan, dan yang akan dicapainya hanya dengan dasar kebenaran. Kenyataan ini dibuktikan oleh julukan yang diberikan orang kepadanya dan bawaan yang ada dalam dirinya. Itu sebabnya, sejak masa ia kanak-kanak gejala kesempurnaan, kedewasaan dan kejujuran hati sudah tampak, sehingga penduduk Mekah semua memanggilnya Al-Amin (artinya 'yang dapat dipercaya').

Menggembala Kambing
Yang menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berpikir, ialah pekerjaannya menggembalakan kambing sejak dalam masa mudanya itu. Dia menggembalakan kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Dengan rasa gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala itu. Di antaranya ia berkata: "Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing." Dan katanya lagi: "Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad."

Gembala kambing yang berhati terang itu, dalam udara yang bebas lepas di siang hari, dalam kemilau bintang bila malam sudah bertahta, menemukan suatu tempat yang serasi untuk pemikiran dan permenungannya. Ia menerawang dalam suasana alam demikian itu, karena ia ingin melihat sesuatu di balik semua itu. Dalam pelbagai manifestasi alam ia mencari suatu penafsiran tentang penciptaan semesta ini. Ia melihat dirinya sendiri. Karena hatinya yang terang, jantungnya yang hidup, ia melihat dirinya tidak terpisah dari alam semesta itu. Bukankah juga ia menghirup udaranya, dan kalau tidak demikian berarti kematian? Bukankah ia dihidupkan oleh sinar matahari, bermandikan cahaya bulan dan kehadirannya berhubungan dengan bintang-bintang dan dengan seluruh alam? Bintang-bintang dan semesta alam yang tampak membentang di depannya, berhubungan satu dengan yang lain dalam susunan yang sudah ditentukan, matahari tiada seharusnya dapat mengejar bulan atau malam akan mendahului siang. Apabila kelompok kambing yang ada di depan Muhammad itu memintakan kesadaran dan perhatiannya supaya jangan ada serigala yang akan menerkam domba itu, jangan sampai - selama tugasnya di pedalaman itu - ada domba yang sesat, maka kesadaran dan kekuatan apakah yang menjaga susunan alam yang begitu kuat ini?

Pemikiran dan permenungan demikian membuat ia jauh dari segala pemikiran nafsu manusia duniawi. Ia berada lebih tinggi dari itu sehingga adanya hidup palsu yang sia-sia akan tampak jelas di hadapannya. Oleh karena itu, dalam perbuatan dan tingkah-lakunya Muhammad terhindar dari segala penodaan nama yang sudah diberikan kepadanya oleh penduduk Mekah, dan memang begitu adanya: Al-Amin.

Semua ini dibuktikan oleh keterangan yang diceritakannya kemudian, bahwa ketika itu ia sedang menggembala kambing dengan seorang kawannya. Pada suatu hari hatinya berkata, bahwa ia ingin bermain-main seperti pemuda-pemuda lain. Hal ini dikatakannya kepada kawannya pada suatu senja, bahwa ia ingin turun ke Mekah, bermain-main seperti para pemuda di gelap malam, dan dimintanya kawannya menjagakan kambing ternaknya itu. Tetapi sesampainya di ujung Mekah, perhatiannya tertarik pada suatu pesta perkawinan dan dia hadir di tempat itu. Tetapi tiba-tiba ia tertidur. Pada malam berikutnya datang lagi ia ke Mekah, dengan maksud yang sama. Terdengar olehnya irama musik yang indah, seolah turun dari langit. Ia duduk mendengarkan. Lalu tertidur lagi sampai pagi.

Jadi apakah gerangan pengaruh segala daya penarik Mekah itu terhadap kalbu dan jiwa yang begitu padat oleh pikiran dan renungan? Gerangan apa pula artinya segala daya penarik yang kita gambarkan itu yang juga tidak disenangi oleh mereka yang martabatnya jauh di bawah Muhammad?

Karena itu ia terhindar dari cacat. Yang sangat terasa benar nikmatnya, ialah bila ia sedang berpikir atau merenung. Dan kehidupan berpikir dan merenung serta kesenangan bekerja sekadarnya seperti menggembalakan kambing, bukanlah suatu cara hidup yang membawa kekayaan berlimpah-limpah baginya. Dan memang tidak pernah Muhammad mempedulikan hal itu. Dalam hidupnya ia memang menjauhkan diri dari segala pengaruh materi. Apa gunanya ia mengejar itu padahal sudah menjadi bawaannya ia tidak pernah tertarik? Yang diperlukannya dalam hidup ini asal dia masih dapat menyambung hidupnya.

Bukankah dia juga yang pernah berkata: "Kami adalah golongan yang hanya makan bila merasa lapar, dan bila sudah makan tidak sampai kenyang?" Bukankah dia juga yang sudah dikenal orang hidup dalam kekurangan selalu dan minta supaya orang bergembira menghadapi penderitaan hidup? Cara orang mengejar harta dengan serakah hendak memenuhi hawa nafsunya, sama sekali tidak pernah dikenal Muhammad selama hidupnya. Kenikmatan jiwa yang paling besar, ialah merasakan adanya keindahan alam ini dan mengajak orang merenungkannya. Suatu kenikmatan besar, yang hanya sedikit saja dikenal orang. Kenikmatan yang dirasakan Muhammad sejak masa pertumbuhannya yang mula-mula yang telah diperlihatkan dunia sejak masa mudanya adalah kenangan yang selalu hidup dalam jiwanya, yang mengajak orang hidup tidak hanya mementingkan dunia. Ini dimulai sejak kematian ayahnya ketika ia masih dalam kandungan, kemudian kematian ibunya, kemudian kematian kakeknya. Kenikmatan demikian ini tidak memerlukan harta kekayaan yang besar, tetapi memerlukan suatu kekayaan jiwa yang kuat. sehingga orang dapat mengetahui: bagaimana ia memelihara diri dan menyesuaikannya dengan kehidupan batin.

Andaikata pada waktu itu Muhammad dibiarkan saja begitu, tentu takkan tertarik ia kepada harta. Dengan keadaannya itu ia akan tetap bahagia, seperti halnya dengan gembala-gembala pemikir, yang telah menggabungkan alam ke dalam diri mereka dan telah pula mereka berada dalam pelukan kalbu alam.

Akan tetapi Abu Talib pamannya - seperti sudah kita sebutkan tadi -hidup miskin dan banyak anak. Dari kemenakannya itu ia mengharapkan akan dapat memberikan tambahan rejeki yang akan diperoleh dari pemilik-pemilik kambing yang kambingnya digembalakan. Suatu waktu ia mendengar berita, bahwa Khadijah binti Khuwailid mengupah orang-orang Quraisy untuk menjalankan perdagangannya. Khadijah adalah seorang wanita pedagang yang kaya dan dihormati, mengupah orang yang akan memperdagangkan hartanya itu. Berasal dari Keluarga (Banu) Asad, ia bertambah kaya setelah dua kali ia kawin dengan keluarga Makhzum, sehingga dia menjadi seorang penduduk Mekah yang terkaya. Ia menjalankan dagangannya itu dengan bantuan ayahnya Khuwailid dan beberapa orang kepercayaannya. Beberapa pemuka Quraisy pernah melamarnya, tetapi ditolaknya. Ia yakin mereka itu melamar hanya karena memandang hartanya. Sungguhpun begitu usahanya itu terus dikembangkan.

Ke Suria Membawa Dagangan Khadijah
Tatkala Abu Talib mengetahui, bahwa Khadijah sedang menyiapkan perdagangan yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam, ia memanggil kemenakannya - yang ketika itu sudah berumur duapuluh lima tahun.

"Anakku," kata Abu Talib, "aku bukan orang berpunya. Keadaan makin menekan kita juga. Aku mendengar, bahwa Khadijah mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi aku tidak setuju kalau akan mendapat upah semacam itu juga. Setujukah kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia?"

"Terserah paman," jawab Muhammad.

Abu Talibpun pergi mengunjungi Khadijah:

"Khadijah, setujukah kau mengupah Muhammad?" tanya Abu Talib. "Aku mendengar engkau mengupah orang dengan dua ekor anak unta Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor."

"Kalau permintaanmu itu buat orang yang jauh dan tidak kusukai, akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan kusukai." Demikian jawab Khadijah.

Kembalilah sang paman kepada kemenakannya dengan menceritakan peristiwa itu. "Ini adalah rejeki yang dilimpahkan Tuhan kepadamu," katanya.

Setelah mendapat nasehat paman-pamannya Muhammad pergi dengan Maisara, budak Khadijah. Dengan mengambil jalan padang pasir kafilah itupun berangkat menuju Syam, dengan melalui Wadi'l-Qura, Madyan dan Diar Thamud serta daerah-daerah yang dulu pernah dilalui Muhammad dengan pamannya Abu Talib tatkala umurnya baru duabelas tahun.

Perjalanan sekali ini telah menghidupkan kembali kenangannya tentang perjalanan yang pertama dulu itu. Hal ini menambah dia lebih banyak bermenung, lebih banyak berpikir tentang segala yang pernah dilihat, yang pernah didengar sebelumnya: tentang peribadatan dan kepercayaan-kepercayaan di Syam atau di pasar-pasar sekeliling Mekah.

Setelah sampai di Bushra ia bertemu dengan agama Nasrani Syam. Ia bicara dengan rahib-rahib dan pendeta-pendeta agama itu, dan seorang rahib Nestoria juga mengajaknya bicara. Barangkali dia atau rahib-rahib lain pernah juga mengajak Muhammad berdebat tentang agama Isa, agama yang waktu itu sudah berpecah-belah menjadi beberapa golongan dan sekta-sekta - seperti sudah kita uraikan di atas.

Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara perdagangan yang lebih banyak menguntungkan daripada yang dilakukan orang lain sebelumnya. Demikian juga dengan karakter yang manis dan perasaannya yang luhur ia dapat menarik kecintaan dan penghormatan Maisara kepadanya. Setelah tiba waktunya mereka akan kembali, mereka membeli segala barang dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai oleh Khadijah.

Dalam perjalanan kembali kafilah itu singgah di Marr'-z-Zahran. Ketika itu Maisara berkata: "Muhammad, cepat-cepatlah kau menemui Khadijah dan ceritakan pengalamanmu. Dia akan mengerti hal itu."

Muhammad berangkat dan tengah hari sudah sampai di Mekah. Ketika itu Khadijah sedang berada di ruang atas. Bila dilihatnya Muhammad di atas unta dan sudah memasuki halaman rumahnya. ia turun dan menyambutnya. Didengarnya Muhammad bercerita dengan bahasa yang begitu fasih tentang perjalanannya serta laba yang diperolehnya, demikian juga mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah gembira dan tertarik sekali mendengarkan. Sesudah itu Maisarapun datang pula yang lalu bercerita juga tentang Muhammad, betapa halusnya wataknya, betapa tingginya budi-pekertinya. Hal ini menambah pengetahuan Khadijah di samping yang sudah diketahuinya sebagai pemuda Mekah yang besar jasanya.

Perkawinannya Dengan Khadijah
Dalam waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah berubah menjadi rasa cinta, sehingga dia - yang sudah berusia empatpuluh tahun, dan yang sebelum itu telah menolak lamaran pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy - tertarik juga hatinya mengawini pemuda ini, yang tutur kata dan pandangan matanya telah menembusi kalbunya. Pernah ia membicarakan hal itu kepada saudaranya yang perempuan - kata sebuah sumber, atau dengan sahabatnya, Nufaisa bint Mun-ya - kata sumber lain. Nufaisa pergi menjajagi Muhammad seraya berkata: "Kenapa kau tidak mau kawin?"

"Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan," jawab Muhammad.

"Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta, terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kauterima?"

"Siapa itu?"

Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata: "Khadijah."

"Dengan cara bagaimana?" tanya Muhammad. Sebenarnya ia sendiri berkenan kepada Khadijah sekalipun hati kecilnya belum lagi memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah sudah menolak permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy.

Setelah atas pertanyaan itu Nufaisa mengatakan: "Serahkan hal itu kepadaku," maka iapun menyatakan persetujuannya. Tak lama kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan dihadiri oleh paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga Khadijah guna menentukan hari perkawinan.

Kemudian perkawinan itu berlangsung dengan diwakili oleh paman Khadijah, Umar bin Asad, sebab Khuwailid ayahnya sudah meninggal sebelum Perang Fijar. Hal ini dengan sendirinya telah membantah apa yang biasa dikatakan, bahwa ayahnya ada tapi tidak menyetujui perkawinan itu dan bahwa Khadijah telah memberikan minuman keras sehingga ia mabuk dan dengan begitu perkawinannya dengan Muhammad kemudian dilangsungkan.

Di sinilah dimulainya lembaran baru dalam kehidupan Muhammad. Dimulainya kehidupan itu sebagai suami-isteri dan ibu-bapa, suami-isteri yang harmonis dan sedap dari kedua belah pihak, dan sebagai ibu-bapa yang telah merasakan pedihnya kehilangan anak sebagaimana pernah dialami Muhammad yang telah kehilangan ibu-bapa semasa ia masih kecil.

Catatan kaki:
[1] Muhammad atau Mahmud artinya yang terpuji (A).
[2] Abwa' ialah sebuah desa antara Medinah dengan Juhfa, jaraknya 23 mil (37 km) dari Medinah.

[3] Al-Mu'allaqat nama yang diberikan kepada tujuh buah kumpulan puisi Arab pra Islam yang dianggap terbaik, oleh tujuh penyair: Imr'l-Qais, Tarafa, Zuhair, Labid, 'Antara, 'Amr ibn Kulthum dan Harith ibn Hilizza. Mu'allaqat berarti 'yang digantungkan' yakni sajak-sajak yang ditulis dengan tinta emas (almudhahhab) di atas kain lina (A).
[4] Pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku (A).